Senin, 22 Juni 2020

OPTIMISME

OPTIMISME

Kata Kata Motivasi : Cinta, Islami, Sukses, Kerja, Lucu, Belajar ...

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Salah satu ajaran dalam agama Islam adalah memliki semangat optimisme. Menurut ahli bahasa bahwa kata optimisme  adalah sebuah paham  keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang  baik,  menyenangkan  serta selalu memiliki harapan yang baik dalam segala hal. Demikian halnya dalam agama kita dituntut untuk selalu memiliki semangat optimisme. Namun pada realitanya terkadang  kita dihantui dengan perasaan gagal, takut bangkrut, tidak lulus, tidak diterima, tidak mampu, tidak bisa memberikan yang terbaik, tidak bisa menulis, karya kurang bagus, tidak menarik, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang  mamapu membuat semangat kita jadi ciut.

Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa seorang hamba  dituntut agar tidak berputus asa terhadap rahmat Allah, meskipun  ia telah berlumuran dosa. Sebagaimana firman Allah dalam QS az Zumar: 53

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Terjemah:

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sebahagian ulama tafsir memahami ayat ini bahwa seorang hamba dituntut untuk memiliki sifat optimis yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah tafa’ul. Jika dianalisis secara seksama, maka kita akan mendapati seruan dari Allah kepada Rasul-Nya agar menyampaikan secara langsung mengenai sebuah harapan (rahmat) yang akan diberikan kepada setiap hambanya, sekalipun ia berlumuran dosa.

Istilah tafa’ul ini sangat dekat dengan makna  husnu  dzan (berprasangka baik), misalnya ketika kita sedang menjenguk orang yang sedang sakit, kadang kita mengatakan: “penyakit kamu tidak parah, dulu tetangga saya juga punya penyakit  seperti ini, dan akhirnya sembuh. Jadi tidak usah khawatir insya Allah sebentar lagi penyakitmu  akan sembuh ini hanya persoalan waktu saja”,  Padahal   ia sudah divonis oleh Dokter bahwa  usianya  tidak lama lagi, akan tetapi kita terus menyemangatinya

Imam  Mawardi mengatakan bahwa tafa’ul adalah sebuah penguatan terhadap niat,  dalam artian menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan serta penolong untuk meraih kemenangan. Disamping itu juga sebagai bentuk lapang dada agar seorang mukmin senantiasa ber husnu dzan (prasangka baik) kepada Tuhannya, serta menjadi usaha unutuk menempatkan diri dalam kebaikan.

Lawan kata dari tafa’ul adalah tathayyur. Jika tafa’ul diidentikkan dengan husnu dzan, maka tathayyur adalah  su’u dzan. Rasulullah SAW  pernah menegaskan dalam sebuah sabdanya bahwa:

لاَ طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللّهِ وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ

 

Artinya:

“Tidak ada thiyarah, dan sebaik-baik thiyarah adalah al-Fa’l. Ditanyakan (oleh Sahabat): Wahai Rasulullah apa yang dimaksud  dengan fa’l ? Beliau menjawab: “Yaitu kata-kata baik yang didengar oleh salah seorang kamu.” (Lihat Shahih Bukhari: 5422, 5423, Muslim: 2223)

Term thiyarah dalam  hadis tersebut adalah merasa pesimis dan bernasib sial karena burung. Demikian penjelasan ulama hadis mengenai asbab wurudnya. Konon pada zaman  jahiliyah,  jika seseorang  mempunyai suatu  hajat, maka ia akan melihat arah mana yang dituju oleh burung yang sementara terbang lalu mereka akan mengikutinya.  Jika burung tersebut terbang ke arah  kanan, maka ia akan merasa optimis dan segera melanjutkan niatnya. Akan tetapi jika burung tersebut terbang ke arah kiri, maka ia merasa pesimis kemudian kembali ke rumahnya dan  tidak akan melanjutkan  niatnya. Setelah Islam datang,  maka tradisi seperti ini pun tidak lagi dipakai oleh masyarakat mekah.

Seiring berjalnnya waktu, term  thiyarah ini pun mengalami pergeseran makna, yaitu diartikan sebagai perasaan pesimis secara mutlak, entah itu melihat burung atau melhat yang lainnya. Olehnya itu Rasulullah menjelaskan bahwa sebaik-baik thiyarah  adalah fa’l, maksudnya jika memang betul  adanya seperti yang  mereka pahami bahwa sesuatu itu memiliki pengaruh, maka sebaik-baik yang memiliki pengaruh adalah ucapan baik yang ia dengar dan membuahkan perasaan optimis serta memprediksi akan terwujudnya kebaikan.

Demi Masa Depanmu, 5 Alasan Kenapa Dosen Pembimbing Kadang ...

Dalam konteks kinerja dosen untuk menghasilkan sebuah karya di bidang literasi, dibutuhkan yang namanya rasa optimis. Tentu tidak  mudah  membangkitkan semangat tersebut, olehnya itu berbagai cara bisa ditempuh, salah satunya adalah saling menyemangati serta memberi motivasi agar bisa terus mengukir prestasi. Motivasi saja tidaklah cukup, mesti ditopang oleh kemauan  keras serta kesabaran yang extra. Olehnya itu berbuatlah dengan segera jangan pernah menunda-nunda,  karena  perjalanan  hidup masih panjang, dan tentunya harapan akan selalu ada bagi yang  tidak berputus asa. Maka ingatlah satu hal bahwa nasib seseorang tidak akan berubah selama ia tidak merubah cara pandangnya dalam hidup.

 

 

Ternate, 23 Juni 2020

 


2 komentar:

asasas

 sasasasas