OPTIMISME

Oleh:
Muhammad Irfan Hasanuddin
Salah satu
ajaran dalam agama Islam adalah memliki semangat optimisme. Menurut ahli bahasa
bahwa kata optimisme adalah sebuah paham
keyakinan atas segala sesuatu dari segi
yang baik, menyenangkan serta selalu memiliki harapan yang baik dalam
segala hal. Demikian halnya dalam agama kita dituntut untuk selalu memiliki
semangat optimisme. Namun pada realitanya terkadang kita dihantui dengan perasaan gagal, takut
bangkrut, tidak lulus, tidak diterima, tidak mampu, tidak bisa memberikan yang
terbaik, tidak bisa menulis, karya kurang bagus, tidak menarik, dan masih
banyak lagi kalimat-kalimat yang mamapu
membuat semangat kita jadi ciut.
Al-Qur’an
sendiri menjelaskan bahwa seorang hamba dituntut agar tidak berputus asa terhadap
rahmat Allah, meskipun ia telah berlumuran
dosa. Sebagaimana firman Allah dalam QS az Zumar: 53
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ
أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ
ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Terjemah:
“Katakanlah:
"Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Sebahagian
ulama tafsir memahami ayat ini bahwa seorang hamba dituntut untuk memiliki
sifat optimis yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah tafa’ul. Jika
dianalisis secara seksama, maka kita akan mendapati seruan dari Allah kepada
Rasul-Nya agar menyampaikan secara langsung mengenai sebuah harapan (rahmat)
yang akan diberikan kepada setiap hambanya, sekalipun ia berlumuran dosa.
Istilah
tafa’ul ini sangat dekat dengan makna husnu dzan (berprasangka baik), misalnya ketika
kita sedang menjenguk orang yang sedang sakit, kadang kita mengatakan: “penyakit
kamu tidak parah, dulu tetangga saya juga punya penyakit seperti ini, dan akhirnya sembuh. Jadi tidak
usah khawatir insya Allah sebentar lagi penyakitmu akan sembuh ini hanya persoalan waktu saja”, Padahal ia
sudah divonis oleh Dokter bahwa usianya tidak lama lagi, akan tetapi kita terus
menyemangatinya
Imam
Mawardi mengatakan bahwa tafa’ul adalah
sebuah penguatan terhadap niat, dalam artian
menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan serta penolong untuk meraih kemenangan.
Disamping itu juga sebagai bentuk lapang dada agar seorang mukmin senantiasa
ber husnu dzan (prasangka baik) kepada Tuhannya, serta menjadi usaha
unutuk menempatkan diri dalam kebaikan.
Lawan kata dari tafa’ul
adalah tathayyur. Jika tafa’ul diidentikkan dengan husnu
dzan, maka tathayyur adalah su’u dzan. Rasulullah SAW pernah menegaskan dalam sebuah sabdanya bahwa:
لاَ طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ. قِيلَ: يَا
رَسُولَ اللّهِ وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا
أَحَدُكُمْ
Artinya:
“Tidak
ada thiyarah, dan sebaik-baik thiyarah adalah al-Fa’l. Ditanyakan (oleh Sahabat): Wahai Rasulullah apa yang
dimaksud dengan fa’l ? Beliau
menjawab: “Yaitu kata-kata baik yang didengar oleh salah seorang kamu.” (Lihat
Shahih Bukhari: 5422, 5423, Muslim: 2223)
Term
thiyarah dalam hadis tersebut adalah
merasa pesimis dan bernasib sial karena burung. Demikian penjelasan ulama hadis
mengenai asbab wurudnya. Konon pada zaman
jahiliyah, jika seseorang mempunyai suatu hajat, maka ia akan melihat arah mana yang
dituju oleh burung yang sementara terbang lalu mereka akan mengikutinya. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, maka ia akan merasa optimis dan segera
melanjutkan niatnya. Akan tetapi jika burung tersebut terbang ke arah kiri,
maka ia merasa pesimis kemudian kembali ke rumahnya dan tidak akan melanjutkan niatnya. Setelah Islam datang, maka tradisi seperti ini pun tidak lagi
dipakai oleh masyarakat mekah.
Seiring
berjalnnya waktu, term thiyarah ini
pun mengalami pergeseran makna, yaitu diartikan sebagai perasaan pesimis secara
mutlak, entah itu melihat burung atau melhat yang lainnya. Olehnya itu
Rasulullah menjelaskan bahwa sebaik-baik thiyarah adalah fa’l, maksudnya jika memang
betul adanya seperti yang mereka pahami bahwa sesuatu itu memiliki
pengaruh, maka sebaik-baik yang memiliki pengaruh adalah ucapan baik yang ia
dengar dan membuahkan perasaan optimis serta memprediksi akan terwujudnya
kebaikan.

Dalam konteks
kinerja dosen untuk menghasilkan sebuah karya di bidang literasi, dibutuhkan
yang namanya rasa optimis. Tentu tidak mudah membangkitkan semangat tersebut, olehnya itu berbagai
cara bisa ditempuh, salah satunya adalah saling menyemangati serta memberi
motivasi agar bisa terus mengukir prestasi. Motivasi saja tidaklah cukup, mesti
ditopang oleh kemauan keras serta
kesabaran yang extra. Olehnya itu berbuatlah dengan segera jangan pernah
menunda-nunda, karena perjalanan hidup masih panjang, dan tentunya harapan akan
selalu ada bagi yang tidak berputus asa.
Maka ingatlah satu hal bahwa nasib seseorang tidak akan berubah selama ia tidak
merubah cara pandangnya dalam hidup.
Ternate, 23 Juni 2020
Yakin, tellabu essoe ritengngana betarae. Semangat
BalasHapusinsya Allah semoga bs istiqamah
Hapus