Sabtu, 18 Juli 2020

Antara Syari’at atau Adat ? (sebuah makna filosofis budaya mappacci)

Antara Syari’at atau Adat ?

(sebuah  makna filosofis budaya mappacci)

Oleh : Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Beragamnya budaya yang ada di Indonesia, menjadikan Ia terbilang unik. Salah satunya adalah budaya mappacci/mappaccing pada prosesi pernikahan adat Bugis Makassar. Sebelum membahasnya lebih jauh perlu ditekankan bahwa hal ini bukanlah sebuah syari’at yang tentu akan mengedepankan adanya dalil, melainkan hanya prosesi adat semata. Namun hal ini dilakukan bukanlah tanpa dasar. Untuk melestarikan budaya tersebut, maka para pemuka agama Bugis Makassar menggunakan dalil Ushul yang mengatakan اَلْعَادَة مُحَكَّمَةٌ (’Adah (adat) itu bisa dijadikan patokan hukum). Serta dalil-dalil lainnya yang menunjukkan perintah ta’faul (optimisme).

Pemandangan yang sangat memukau hati dan sarat akan emosi ketika menyaksikan prosesi mappacci atau diistilahkan dengan malam pacar yang dilakukan sehari sebelum prosesi akad pernikahan. Budaya ini sudah menjadi keharusan bagi sebahagian masyarakat Bugis Makassar sebagai salah satu bentuk sennu’-sennureng yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah Tafa’ul atau sikap optimisme.

Sebelum acara mappacci, didahului dengan prosesi khataman al-Qur’an dan dilanjutkan pembacaan kitab al-Barazanji. Meraih berkah dari al-Qur’an dan salawat Nabi sudah menjadi bahan pokok dari prosesi malam mappacci agar suasana terasa lebih khidmat dan sakral. Disamping itu ada juga tambahan bagi suku Makassar yaitu prosesi a’ngaru, sebuah budaya yang menyatakan ikrar kesetiaan.

Dahulu Ikrar atau Janji ini biasanya diucapkan oleh para pengawal  kerajaan gowa sebagai bukti pengabdian setianya. Prosesi ini juga kadang digunakan ketika menyambut tamu agung yang berkunjung ke kerjaan atau saat sekarang biasanya dipakai untuk menyambut para pejabat negara atau pada prosesi adat pernikahan. Antara lain isi ikrarnya adalah:

Pentas seni budaya Makassar A'NGARU dalam acara Reuni Akbar TFTT ...


BISMILLAHIRRAHMANIR

RAHIM


ATTA……..KARAENG
TABE’ KIPAMMOPORANG MAMA’
RIDALLEKANG LABBIRITTA
RISA’RI KARATUANTA
RIEMPOANG MATINGGITA

INAKKE MINNE, KARAENG

LAMBARA TATASSA’LA’NA GOWA
NAKARAPPEKANGI SALLANG, KARAENG
PANGNGULU RIBARUGAYA
NANATEPOKANGI SALLANG
PASORANG ATTANGNGA PARANG

INAI-INAIMO SALLANG, KARAENG

TAMAPPATTOJENGI TOJENGA
TAMAPPIADAKI ADAKA 
KUSALAGAI SIRINNA
KUISARA PARALLAKKENNA
BERANGJA KUNIPATEBBA
PANGKULU KUNISOEYANG

IKAU ANGING, KARAENG

NAIKAMBE LEKOK KAYU
AMMIRI’KO ANGING
NAMARUNANG LEKOK KAYU
IYA SANI MADIDIYAJI NURUNANG

IKAU JE’NE, KARAENG

NAIKAMBE BATANG MAMMANYU’
ASSOLONGKO JE’NE
NAMAMMANYU BATANG KAYU
IYA SANI SOMPO BONANGPI KIANYU

IKAU JARUNG, KARAENG

NAIKAMBE BANNANG PANJAI
TA’LEKO JARUNG
NAMAMMINAWANG BANNANG PANJAI
IYA SANI LAMBUSUPPI NAKONTU TOJENG

MAKKANAMAMAKI MAE, KARAENG

NAIKAMBE MAPPA’JARI
MANNYABBU MAMAKI MAE KARAENG
NAIKAMBE MAPPA’RUPA

PUNNA SALLANG TAKAMMAYA

ARUKU RI DALLEKANTA
PANGKAI JERAKKU
TINRA’ BATE ONJOKKU

PAUWANG ANA’ RI BOKO

PASANG ANA’TANJARI
TUMAKKANAYA, KARAENG
NATANARUPAI KANANNA

SIKAMMAJINNE ARUKU RI DALLEKANTA

DASI NADASI NATARIMA PA’NGARU’KU

SALAMA’……


Artinya..:
Bismillahirrahmanirrahim..


Sungguh………Karaeng
Maafkan aku
Di haribaanmu yang mulia
Di sisi kebesaranmu
Di tahtamu yang agung

Akulah ini, Karaeng
Satria dari Tanah – Gowa
Akan memecahkan kelak
Hulu badik di arena
Akan mematahkan kelak
Gagang tombak di medan laga

Barangsiapa jua
Yang tak membenarkan kebenaran
Yang menentang adat budaya
Kan kuhancurkan tempat berpijaknya
Kan kululuh lantahkan ruang geraknya
Aku ibarat parang yang dihentakkan
Kapak yang diayunkan

Engkau ibarat angin, Karaeng
Aku ini ibarat daun kayu
Berhembuslah wahai angin 
Kurela gugur bersamamu.
Hanya saya yang kuning kau gugurkan

Engkau ibarat air, Karaeng
Aku ini ibarat batang kayu
Mengalirlah wahai air
Kurela hanyut bersamamu
Hanya saya di air pasang kami hanyut..

Engkau ibarat jarum, Karaeng
Aku ini ibarat benang tenun
Menembuslah wahai jarum
Kan kuikuti bekas jejakmu

Berfatwalah wahai Karaeng
Aku kan berbuat
Bertitahlah wahai Karaeng
Aku akan berbakti

Bilamana kelak janji ini tak kutepati
Sebagaimana ikrarku di hadapanmu
Pasak pusaraku
Hapus jejak langkahku

Sampaikan pada generasi mendatang
Pesankan pada anak cucu
Bahwasanya hanya mampu berikrar
Tapi tidak mampu berbuat bakti

Demikianlah ikrarku dihadapanmu
Semoga tuhan meridhai

Amin…………
 

Dalam Prosesi mappacci digunakan beberapa alat yang tentu semuanya itu mempunyai makna. Atara lain perlengkapan yang dipersiapkan adalah:

1.      Pacci yaitu sesuatu yang menyerupai salep atau jel yang berasal dari tanah arab, akan tetapi mayoritas masyarakat Bugis Makassar menggunakan daun pacar kemudian ditumbuk sampai halus. Daun ini sangat mudah didapatkan bahkan biasanya banyak tumbuh dipekarangan rumah. Hal ini sebagai simbol pembersihan jiwa dan raga calon pengantin sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.

2.      Sebuah bantal atau alas kepala yang diletakkan di depan calon pengantin, sebagai makna mapakalebbi’ atau memberi penghormatan/ memuliakan. Dengan harapan calon pengantin dapat mengenal jati diirinya sebagai makhluk yang mulia serta memiliki kehormatan

3.      Sarung sutera 7 lembar yang disusun diatas bantal tersebut, sebagai simbol keistiqamahan serta ketekunan. Makna filosofi ini diambil dari para penenun sarung sutera yang secara tekun serta terus menerus menyusun sehelai demi sehelai benang agar menjadi sebuah kain yang selanjutnya akan dijadikan sarung. Dengan sikap tersebut diharapkan kepada calon pengantin ketika mengarungi bahtera rumah tangga dapat juga istiqamah serta memiliki sifat yang tekun seperti halnya para penenun sutera. Selain makna tersebut, sarung juga dimaknai dengan simbol penutup aurat, yang mana diharapkan kepada calon pengantin ketika hidup bermasyarakat nanti, senantiasa memiliki rasa malu atau masyarakat sulawesi menyebutnya dengan istilah siri’. Jumlah ganjil yang ditetapkan didasarkan oleh hadis Nabi saw yang mengatakan bahwa “Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil”.

4.      Daun pisang, sebagai simbol harapan hidup berkesinambungan, sesuai dengan karakter dari pohon pisang bahwa tidak akan mati atau layu sebelum muncul tunas yang baru. Selain itu pisang juga mempunyai banyak kegunaan atau manfaat, baik itu daun, batang hingga buahnya. Olehnya itu diharapkan kepada calon pengantin agar dapat berguna serta membawa manfaat kepada orang lain.

5.      Diatas daun pisang biasanya ada juga kelapa dan gula merah, sebagai simbol saling melengkapi segala kekurangan dan menikmati bersama pahit manisnya kehidupan duniawi.

6.      Selain kelapa ada juga piring yang berisikan wenno’ atau beras yang disangrai hingga mengembang sebagai  makna harapan untuk berkembang biak dengan baik.

7.      Perlengkapan selanjutnya adalah lilin sebagai simbol penerangan. Hal ini dimaknai agar calon pengantin nantinya dapat menjadi penerang (pemberi solusi) bagi keluarga dan masyarakat.

Pada saat meletakkan daun pacci, yang diundangan selain dari keluarga adalah orang-orang yang memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia serta sejahtera. Dengan harapan semoga calon pengantin dapat memiliki rumah tangga yang bahagia serta sejahtera pula.

Meskipun budaya mappacci bukan merupakan suatu kewajiban agama, akan tetapi mayoritas Ulama utamanya yang ada di daerah Bugis atau Makassar menganggapnya sebagai sennu-sennureng ri decengnge (kecintaan akan kebaikan). Namun seiring berjalannya waktu, beberapa masyarakat sudah mulai meninggalkan kebiasaan tersebut, bahkan cenderung mencari legalitas serta memperdebatkan keabsahan dalilnya.

 

 

 

Ternate, 19 Juli 2020.


Kamis, 16 Juli 2020

Berbenah Diri Lewat Literasi

Berbenah Diri Lewat Literasi

Oleh : Muhammad Irfan Hasanuddin

Koala Hitam: Kapan waktu yang baik untuk membaca?

Menjadi dosen yang berkualitas serta produktif tentu tidaklah mudah, butuh perjuangan panjang untuk sampai ketahap itu. Namun bukan sesuatu yang mustahil untuk meraih predikat tersebut. Semuanya tentu butuh proses dan yang terpenting adalah terus bersabar menjalani segala ujian maupun rintangan yang dihadapi serta terus berusaha mengasa diri untuk menuju ke tahap yang lebih produktif.

Diantara sekian banyak orang yang bergelut di dunia akademik, terkadang Ia memiliki sejarah hidup atau perjuangan panjang sebelum disebut sebagai Dosen. Mungkin ada diantara mereka yang pernah menjadi kuli bangunan, buruh harian, petani, nelayan dan lain sebagainya. Hal inilah yang terkadang bisa menjadi penghambat studi, namun tidak sedikit juga yang menjadikannya sebagai motivasi untuk merubah nasib.

Bukan hal yang mudah belajar atau kuliah sambil bekerja. Memadukan dua hal yang menjadi kebutuhan hidup tentu sulit untuk memilih salah satunya atau menjadikannya sebagai prioritas utama. Para Dosen yang berkuliatas pun terkadang merasa dirinya belum memadai. Akan tetapi setidaknya mereka telah mampu menumbuhkan budaya akademiknya. Berbeda halnya dengan dosen yang baru mengenal budaya akademik sesungguhnya. Mereka baru melangkah sedikit demi sedikit, mempelajari serta membiasakan hidup dengan budaya literasi.

Jika sejak kecil sudah dikenalkan dengan budaya literasi, maka tentu akan lebih mudah untuk mengembangkan karir, sebab sudah mempunyai dasar, seperti kebiasaan membaca, menulis, hingga kemampuan berbahasa asing. Lain halnya dengan Dosen yang baru memiliki kesadaran literasi tentu akan merasa canggung dan bahkan merasa minder dengan segala keterbatasan yang Ia miliki.

Sebagai tuntutan profesi, suka atau tidak maka kita harus segera berbenah diri, dan mulai membiasakan dengan hal-hal yang berkaitan dengan tugas serta fungsi kita sebagai Dosen, mulai dari pengajaran, penelitian hingga pengabdian masyarakat. Bagi Dosen muda tentu kita tidak boleh berputus asa, sebab jalan menuju kesuksesan masih terbuka dengan lebar. Banyak jalan menuju Roma demikian kata pepatah.

Hampir di dunia ini tidak ada yang diraih secara instan. Nabi Muhammad saw pun ketika menerima al-Qur’an, hal pertama yang diajarkan oleh malaikat Jibril adalah perintah untuk membaca.  Apakah Nabi langsung bisa membaca? Tentu tidak, namun Nabi tidak berputus asa, dengan usaha yang keras serta bimbingan dari  malaikat Jibril, akhirnya Nabi pun bisa membaca. Demikian halnya menjadi penulis yang baik tentu diawali dengan menjadi pembaca yang baik. Seperti yang pernah dikatakan oleh salah seorang akademisi asal STAIN Sorong yaitu Prof Ismail Suardi Wekke, Ia mengatakan bahwa menulis atau meneliti diibaratkan seperti bernafas. jika bernafas didahului dengan menghirup oksigen lalu mengeluarkannya, maka menulis mestinya didahului dengan membaca. Tanpa membaca tentu akan sangat sulit untuk merangkai kata.

Dalam agama Islam sendiri, wahyu pertama yang Allah turunkan adalah perintah membaca, sebagaimana firman Allah dalam Q.S al-‘Alaq ayat: 1

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Terjemah:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”

Menurut sebahagian Ulama Tafsir, term Iqra’ tidak hanya terbatas pada pengertian “membaca” saja, akan tetapi bisa berarti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya. Tentu kegiatan tersebut akan terwujud ketika diawali dengan kebiasaan membaca. Dengan aktifitas membaca, maka akan lebih memudahkan kita untuk merangkai kata, mendapatkan ide, serta gagasan.

Olehnya itu pembiasaan membaca wajib dibumikan oleh siapa saja, entah itu seorang Pelajar, Guru, maupun Dosen. Seperti halnya yang pernah dikatakan oleh Dr. Ngainun Naim (Pakar Literasi) bahwa budaya membaca merupakan dasar bagi pengembangan diri. Artinya semakin kuat budaya membaca yang tertanam, maka semakin besar pula peluang untuk mengembangkan diri. Dengan kualitas diri yang memumpuni, tentu akan memudahkan kita untuk memiliki daya saing, terutama pada era globalisasi saat sekarang ini.

 

Ternate, 17 Juli 2020

 


Senin, 13 Juli 2020

Keajaiban Sabar dan Shalat (3)

Keajaiban Sabar dan Shalat (3)

(Kemudahan Menjemput Sang Pujaan Hati)

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

doa minta jodoh | Lucu, Meme, Komik 

Masalah jodoh bukanlah tentang siapa cepat dia dapat, melainkan ini persoalan kesabaran dalam penantian dan soal keyakinan akan sebuah ketentuan. Namun satu hal yang pasti dalam hidup bahwa adakalanya kita akan menjadi raja dan ratu dipelangi impian atau cuma datang bertamu dipelaminan.

Terkadang hal paling indah dalam hidup yang dirasakan oleh seorang pria adalah ketika ia telah bertemu dengan sosok pujaan hatinya. Itulah yang saya rasakan ketika bertemu dengan dirinya. Ya, dia adalah sosok wanita yang belum pernah saya kenal sebelumnya dan tiada menyangka akan menjadi Ibu dari anak-anak saya nantinya. Kami hanya bertemu lewat media sosial. kata orang saya ini adalah korban media sosial, tapi bagiku ini adalah sebuah anugerah terindah dari sang Pencipta.

Waktu itu tanpa sengaja saya membaca sebuah status seorang wanita yang baru saya kenal melalui media sosial, Ia mengatakan “lagi tidak pengen pacaran, pengennya langsung nikah aja”. Entah angin apa yang membawaku sampai ke status tersebut, rasa penasaran ingin mengenalnya lebih jauh pun mulai merasuk kelubuk hati dan tanpa berfikir panjang dengan ucapan bismillah kuberanikan diri untuk mengomentari status tersebut lewat chat berharap bisa mengenalnya lebih jauh lagi.

            11 April 2016 adalah hari dimana saya merasa menjadi seorang pria yang paling beruntung sedunia, karena mendapatkan balasan chat dari seorang wanita yang baru saya kenal lewat media sosial, ya namanya aja anak muda, baru mengenal yang namanya asmara. Sempat tersenyum sendiri melihat perkenalan singkat kami dengan saling tukar CV (Curriculum Vitae), ya....kaya’ mirip dengan melamar kerjalah. Demikianlah episode awal dari kisah kami.

Seiring berjalannya waktu, perlahan tapi pasti akhirnya kami pun mulai akrab walau hanya lewat media sosial tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup untuk mengenal kepribadiannya, kan ta’aruf itu tidak butuh waktu yang lama. Saya selalu berfikir apakah mungkin dia itu adalah jawaban Tuhan atas do’a yang selama ini saya panjatkan, do’a yang tidak pernah saya tinggalkan sejak diajarkan oleh Guru saya. Katanya sih ini adalah do’a biar kita tidak menjomblo.

Dalam Setiap akhir sujudku, senantiasa menitipkan do’a: “Ya Allah jika dia adalah jodohku, jagakan dia dalam kebaikan dan pertemukan kami di waktu yang tepat, waktu dimana kita berdua benar-benar siap dan mantap untuk menata kehidupan yang baru, tidak lagi bergantung kepada kedua orang tua serta memiliki rasa tanggung jawab hidup yang dipikul bersama. Ya Allah jagalah kami dalam setiap kebaikan, tak apa saling berharap dalam kejauhan, karena jodoh tidak harus selalu bersama sebelum kepelaminan. Sibukkanlah kami dalam kebaikan sehingga kami siap dan lupa lamanya penantian yang kadang memberikan keraguan dan hilangnya kepercayaan, kutitipkan do’a ini buat dia yang jauh disana berharap suatu saat nanti bisa hidup bersama”.

Januari 2017 adalah sebuah penentuan yang sangat mendebarkan antara diterima atau ditolaknya lamaran saya. Bagi orang Sulawesi Selatan, uang panai adalah sebuah momok yang menakutkan bagi calon mempelai pria. Zaman dahulu uang panai dimaknai dengan sebuah penghargaan dari pihak keluarga calon mempelai pria kepada pihak calon mempelai wanita, dan jumlahnya tidak pernah disebutkan ataupun ditentukan. Berbeda dengan saat sekarang ini, yang mulai mengalami pergeseran makna, dan bahkan sudah menjadi sebuah gaya hidup. Jumlahnya pun kadang bervariasi tergantung status sosial calon mempelai wanita.

Rasa takut tidak diterimanya lamaran tentu menjadi suatu kegalauan tersendiri pada saat itu. Namun saya selalu yakin akan pertolongan dari Allah, walaupun badai datang silih berganti. Lewat sabar dan shalat, saya bersimpuh dan menyerahkan segalanya kepada sang Maha Penentu. Alhamdulillah Allah pun memperlihatkan kekuasaaannya, semua urusan berjalan dengan lancar, dan kekhawatiran akan uang panai pun dapat teratasi. Saya pun tak kuasa menahan haru derasnya air mata yang membasahi tempat sujudku. keyakinanku akan pertolongan dari sang Ilahi mampu menepis segala gundah dan ragu. saya pun semakin yakin akan firman-Nya dalam QS At-Thalaq ayat 2-3

 .....وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا  O وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Terjemah:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”.

Ulama Tafsir mengomentari ayat ini bahwa seorang hamba hendaknya senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap langkahnya. Karena ketika kita menyandarkan segala urusan kepada-Nya, maka Ia pun akan memberikan kemudahan dalam setiap urusan kita. Dan akan memberikan rezki dari arah yang tak disangka-sangka serta akan mencukupkan disaat kita merasa serba kekurangan. 

Olehnya itu wahai kaum jomblowers jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Yakinkan hati bulatkan tekad mulailah memperjuangkan pujaan hatimu. Hiasilah keraguanmu itu dengan kesabaran serta munajab kepada sang maha pemberi keputusan. Jangan biarkan syeitan mendahului langkahmu, buatlah hubunganmu menjadi sesuatu yang suci dan bernilai ibadah. Berilah sebuah kepastian kepada sang pujaan hati dan jangan pernah mengumbar janji apalagi teori, karena seorang wanita tidak butuh dengan perbendaharaan kata, melainkan ia butuh sebuah ikrar yang pasti yaitu sebuah ikatan yang akan menjadikan ia sangat berharga dan berarti. Jangan tunggu mapan untuk meminang, karena jika niat suci telah berkumandang maka yakinlah pertolongan Allah segera datang. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai bahtera menuju gerbang impian pelaminan.

رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Terjemah

"Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah ahli waris terbaik”.

 والله أعلم بالصواب


Ternate, 14 Juli 2020



 

 

 


Sabtu, 11 Juli 2020

Keajaiban Sabar dan Shalat (2)

Keajaiban Sabar dan Shalat

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

Jadilah Muslimah yang "Dibeli" Allah | Ruang Muslimah

 

Setiap manusia tentu mendambakan pasangan hidup yang sholeh maupun sholehah. Karena tentu kita menyakini bahwa semakin baik kualitas pasangan hidup kita, maka besar kemungkinan akan menghasilkan keturunan yang berkualitas pula, meskipun sebahagian orang mengatakan tidak selamanya demikian. Namun jika kembali kepada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya”, maka tentu kita akan berusaha mencari pasangan hidup sesuai kriteria yang diharapkan.

Berbeda halnya dengan salah seorang wanita, sebut saja Farihah nama yang sangat indah namun tak seindah dengan perjalanan hidupnya. Ia nekad memilih pasangan hidup dengan modal cinta semata tanpa memperhatikan asal usul dari calonnya tersebut. Ia pun berhasil meyakinkan kedua orang tuanya untuk meraih restunya. Akhirnya ia pun menikah serta memulai episode kehidupan yang baru.

Seiring berjalannya waktu, lika liku kehidupan rumah tangga pun mulai bermunculan. Suaminya yang dulu romantis berubah drastis, diluar dugaan, suami yang Ia banggakan dihadapan kedua orang tuanya ternyata hanyalah seorang suami yang hidupnya dihabiskan untuk berfoya-foya, minum minuman keras hingga main perempuan. Pergi malam pulang pagi itulah kebiasaannya. Bahkan ketika marah, Ia tidak segan menggunakan kekerasan.

Berbagai penderitaan yang dialami oleh Farihah dihadapinya dengan tegar. Air mata hingga luka memar pun ikut menghiasi wajahnya yang lugu. Dan hebatnya lagi ia tak pernah mengeluh sedikitpun apa lagi mau melaporkan suaminya kepihak yang berwajib. Ia tetap ikhlas dan bersabar menerima perlakuan suaminya tersebut. Setiap hari Farihah hanya bisa bersabar serta bermunajab kepada yang Maha Kuasa berharap sebuah keajaiban, semoga suatu saat nanti hati suaminya bisa luluh dan kembali ke jalan yang benar.

Setiap kesukaran pasti ada kemudahan demikian firman Allah yang telah dirasakan oleh Farihah. Apa yang Ia harapkan pun telah terjadi. Suaminya yang dulu ahli maksiat berubah 360 derajat menjadi orang shaleh. Entah apa yang merasukinya, yang jelas perubahan sikap suaminya tersebut telah ia rasakan. Nada haru dalam sujudnya pun terdengar sangat nyaring seraya mengucap syukur atas apa yang telah Ia dapatkan.

Kini Farihah hidup dengan bahagia, tidak ada lagi tangisan sedih yang menghiasi, yang ada hanyalah tangisan haru karena berbagai anugerah Ilahi terus Ia dapatkan. Rumah mewah, harta yang melimpah, usaha yang sukses, hingga keturunan yang sholeh dan sholehah pun menghiasi suasana rumah tangganya.

Kisah ini adalah sebuah kisah nyata yang pernah diceritakan oleh kerabat saya, yang memberikan penguatan penjelasan dalam penafsiran ayat tentang  keajaiban sabar dan shalat. Apa yang Farihah alami hanyalah sebahagian contoh dari persoalan kehidupan yang ada, dan tidak menutup kemungkinan Allah akan memberikan ujian yang jauh lebih berat dari apa yang Farihah alami. Intinya jadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 145

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Terjemah:

“Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Ayat ini memberikan tuntunan kepada kita agar senantiasa memohon kepada Allah dengan penuh kesabaran serta melakukan shalat dalam menjalani berbagai persoalan kehidupan. Tentunya diawali dengan menaruh keyakinan yang penuh atas adanya pertolongan Allah swt. Itu sebabnya yang dipanggil dalam ayat ini hanyalah orang-orang yang beriman.

Penutup dari ayat ini, Allah menyatakan diri-Nya bersama dengan orang-orang yang bersabar. Hal ini mengisyaratkan bahwa seseorang yang ingin diberikan solusi atas berbagai kesulitan hidup yang Ia alami, maka Ia harus terus bersama dengan Allah dalam kondisi serta keadaan apapun. Dan teruslah bersabar serta yakin akan pertolongan Allah karena buah dari kesabaran akan membawa kepada kebaikan serta kebahagiaan.

 

والله أعلم بالصواب

 

Ternate, 12 Juli 2020

 


Senin, 06 Juli 2020

Keajaiban Sabar dan Shalat (bagian 1)

Keajaiban Sabar dan Shalat (bagian 1)

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin


Mereka yang Didoakan Malaikat | Republika Online

Disebuah sudut kota metropolitan, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang sedang diberikan ujian serta cobaan dari Allah swt. Antara lain ujian yang menimpanya adalah akan disitanya rumah yang selama ini mereka huni. Hal ini dikarenakan sang suami mempunyai hutang di bank sebanyak 50 juta yang sudah jatuh tempo, dan sebagai jaminannya adalah rumah mereka. Ketidak sanggupannya membayar hutang menjadikan pihak bank akan menyita rumah beserta isinya. Ia pun pasrah dengan keadaan yang ada dan tidak bisa berbuat banyak. berbagai cara telah ia lakukan untuk menutupi hutangnya namun hasilnya tetap nihil.

Tidak berselang lama sang istri tercinta pun datang dengan membawa sepucuk surat buat sang suami. Dengan penuh amarah yang berapi-api, sang istri mengatakan bahwa ia akan menggugat cerai sang  suami, dikarenakan sudah 6 bulan lamanya tidak dinafkahi. Dengan membawa surat dari pengadilan agama, ia meminta suamianya agar hadir dua hari kemudian di pengadilan untuk sidang gugatan perceraian.

Dengan dua kesusahan yang ia dapatkan tentu membuat hatinya semakin galau, dan ternyata ia pun berputus asa. Ia berniat mengakhiri hidupnya dengan memilih untuk gantung diri. Sebelum ketiang gantungan, ia mendengarkan suara isak tangis dari salah satu sudut rumahnya. Ternyata suara tangisan itu adalah suara anaknya. Sang ayah pun berkata kepada anaknya: “mengapa engkau menangis wahai anakku” ?, anaknya menjawab: “mulai besok saya tidak bisa lagi datang ke sekolah, karena sudah 8 bulan iuran sekolah menunggak”.

Mendengar tangisan anaknya, ia pun makin terpukul dan ingin segera mengakhiri hidupnya. Namun sebelum melakukan bunuh diri,  terlintas dalam pikirannya untuk shalat sunnah terlebih dahulu, karena ketika telah meninggal dunia nanti, maka belum tentu ada yang mau menshalatinya. Setelah melakukan shalat ia pun membaca beberapa ayat al-Qur’an dan tanpa terasa waktu subuh  telah masuk. Ia pun kembali melaksanakan shalat subuh kemudian melanjutkannya dengan membaca beberapa zikir.

Tanpa terasa Jam telah menunjukkan pukul 7 pagi dan ia pun kembali ke tiang gantungan untuk melanjutkan atas apa yang telah ia rencanakan. Namun terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Ia sempat berfikir bahwa yang datang ini adalah petugas bank, alhasil setelah membuka pintu ternyata yang datang bukanlah petugas bank melainkan sahabatnya yang telah lama berpisah. 

Ringkas cerita, ternyata sahabatnya ingin menawarkan proyek kerja sama dalam bidang pengoperasian alat-alat berat. Awalnya ia menolak karena merasa tidak punya keahlian, ditambah lagi dengan beban pikiran yang tadi malam ingin mengakhiri hidupnya namun belum terealisasi. Akan tetapi mendengar nilai kontraknya yang mencapai 150 juta, tanpa berfikir panjang ia pun menerima tawaran dari sahabatnya tersebut.

Akhirnya persoalan hidup yang ia hadapi dapat teratasi. Rumahnya pun tidak jadi disita oleh bank karena hutangnya telah dibayar lunas. Dan terlihat dari  kejauhan istrinya menggenggam selembar kertas yang berisi tanda persetujuan cerai menghampiri sang suami. Sebelum istrinya berbicara, ia memeluknya dengan erat, sambil memberikan sisa uang yang ia dapatkan dari hasil kontrak pekerjannya. Nilainya pun sangat fantantis karena mencapai  jutaan rupiah. Dengan nada penyesalan ia pun meminta maaf karena selama ini tidak pernah menafkahi. Dan ia tak lupa berpesan kepada sang istri agar melunasi tunggakan iuran sekolah anaknya.

Dari kisah tersebut kita bisa belajar bahwa salah satu penawar kesusahan adalah shalat serta bersabar atas takdir Allah. Hal ini senada dengan firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 45

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Terjemah:

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

Sabar dan shalat adalah cara yang Allah tawarkan kepada kita untuk meraih pertolongannya. Tentu dalam menghadapi musibah maupun kesusahan tidaklah mudah, karena butuh kesabaran yang ekstra. Mengeluh atas takdir Allah adalah sesuatu yang bersifat manusiawi. Namun kita juga harus mawas diri serta lebih ikhlas ketika menjalani problema kehidupan agar terhindari dari sikap berlebihan dalam meratapi takdir, yang terkesan kurang menerima keputusan Allah dan bahkan cenderung menolaknya.

Nabi pun mengajarkan kepada kita bahwa ketika seorang hamba ditimpa kesusahan, maka hendaklah ia melakukan shalat. Seperti halnya yang dilakukan oleh lelaki tersebut. Dengan shalat yang Ia kerjakan, serta kesabaran dalam mengahadapi ujian, akhirnya Allah memberikan pertolongan-Nya dan segala kesusahannya pun dapat teratasi.

Kisah ini hanyalah salah satu contoh problema kehidupan yang ada disekitar kita, dan tidak menutup kemungkinan kita juga akan dihadapkan dengan berbagai macam persoalan hidup. Olehnya itu tetaplah bersabar dalam menghadapi ujian maupun cobaan dari Allah serta dirikanlah shalat sebagai pelipur lara. Yakinlah bahwa dibalik kesusahan akan ada kemudahan. Wallahu ‘alam bish shawab.

 

 

Ternate, 7 Juli 2020

 


Sabtu, 04 Juli 2020

Andaikan Aku Bisa Kembali

Andaikan Aku Bisa Kembali

Penyair Senja - Posts | Facebook

Andaikan Aku bisa kembali ke masa lalu, maka akan ku ukir lagi sejuta prestasi agar bisa menikmati masa sekarangku yang lebih baik lagi. Statement ini dilontarkan oleh salah seorang pemuda yang sedang meratapi nasibnya. Ia hidup di sebuah desa terpencil dengan serba kekurangan. Dikehidupannya yang sekarang ini, Ia sangat menyesal dan terpukul dikarenakan tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ekonomi keluarganya. Ia mempunyai sebuah impian untuk ke kota dan bekerja pada sebuah perusahaan. Namun apalah daya, jangankan skill (keterampilan), ijazahpun tiada. Dengan modal pendidikan sekolah dasar yang tidak kelar tentu tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya berharap bahwa suatu saat nanti akan datang secerca cahaya harapan agar impian serta cita-citanya dapat terwujud.

Dalam menjalani kehidupan tentu kita mempunyai persoalan serta keluhan yang berbeda, mulai dari profesi yang paling bawah hingga yang tergolong kelas atas. Misalnya dosen yang sebahagian orang menganggapnya sebagai profesi yang punya gensi. Tentu yang kita pahami bahwa tidak mudah meraih sebutan sebagai dosen. Hal ini dikarenakan beban kinerja yang harus terpenuhi, mulai dari pengajaran, penelitian hingga pengabdian kepada masyarakat.

Dosen yang kurang memiliki bekal literasi tentu akan merasa kesulitan utamanya dalam penyusunan karya ilmiah. Bahkan tidak sedikit dosen yang mengutarakan penyesalannya dikarenakan kurang baca buku pada saat menjadi siswa ataupun mahasiswa, minat belajar yang sangat minim, kurang mengasah diri, tidak memiliki skill (keterampilan), tidak mengusai bahasa asing, buta akan organisasi dan masih banyak lagi unek-unek yang menghiasi benaknya.

Menyesali keadaan sekarang boleh jadi sesuatu yang manusiawi, akan tetapi kita tidak boleh terlalu larut dalam penyesalan tersebut, karena akan memberikan kesan tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Bukankah Nabi Adam juga pernah menyesali perbuatannya ketika memakan buah khuldi?, hingga Nabi Nuh yang pernah mendo’akan ummatnya binasa?, akan tetapi setelah menyesali perbuatannya, dengan segera mereka berbenah diri serta menata kembali kehidupannya ke arah  yang jauh lebih baik lagi.

Demikian halnya di dalam al-Qur’an, Allah swt senantiasa mengingatkan melalui ujian maupun cobaan yang Ia berikan agar manusia kembali ke jalan-Nya (yang benar). Allah swt berfirman dalam QS ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Terjemah:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

secara sepintas jika di lihat terjemahan dari ayat ini, maka kita akan mendapati bahwa Allah memberikan balasan atas perbutan manusia agar mereka bisa belajar dari perbuatannya tersebut, dalam artian dapat menata kehidupannya ke arah yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Olehnya itu tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau berbenah diri selagi masih ada kesempatan, termasuk dalam hal mengejar sebuah impian maupun cita-cita.

CrebyCa: Salah Satu Cita-Cita Saya Adalah Menjadi Penulis

Bagi seorang dosen, memiliki karya ilmiah adalah sebuah impian, memulai secara bertahap, melatih diri hingga mengasah keterampilan tentu akan terasa berat. Kuncinya adalah sabar ikuti proses, hindari mengeluh yang berlebih, dan mulailah sesuatu yang sederhana untuk merangkai sebuah kata menjadi sebuah kalimat, dan yakinlah bahwa Allah senantiasa memberikan jalan hingga saatnya tiba Allah mengatakan waktumu telah habis dan saatnya pulang!  

Jangan pernah berputus asa, sampaikanlah segala keluhan kepada Allah yang maha kuasa, terus bersabar dalam menata kehidupan, dan yakinkan diri bahwa cahaya kemenangan sebentar lagi akan diraih.

 

Muhammad Irfan Hasanuddin

Ternate, 5 Juli 2020


Senin, 29 Juni 2020

Do'a Malaikat Jibril (Bahagian 2)

Do'a Malaikat Jibril (Bahagian 2)

Menghormati Ortu

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

Setelah Nabi mengaminkan do’a Malaikat Jibril yang pertama, maka ia pun melanjutkan do’anya yang kedua. Malaikat Jibril mengatakan: “barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, kemudian belum sempat berbuat baik kepadanya atau salah satunya, lalu ia meninggal dunia maka masukkanlah ke dalam api neraka, dan Allah menjauhkannya (dari surga), kemudian Rasulullah pun mengucapkan amin”.

Do’a Malaikat Jibril yang kedua ini di perutuhkan kepada seorang anak yang tidak tahu berbakti kepada kedua orang tuanya. Padahal andai kata ada yang berhak kita sembah selain Allah maka tentu akan ditujukan kepada kedua orang tua. Allah SWT berfirman dalam QS al-Isra’: 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemah:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antaranya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

Ayat ini memberikan informasi kepada kita tentang kewajiban utama setelah menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Tentu yang dimaksud dalam konteks ayat ini adalah orang tua kandung sesuai dengan penggunaan term ٱلْوَٰلِدَيْنِ , baik itu ayah ٱلْوَٰلِد) ( maupun  ٱلْوَٰلِدَة (Ibu). Berbeda halnya dengan term  اَبٌ  (ayah) maupun term  اُمٌّ (Ibu) yang bermakna umum, artinya bisa jadi yang dimaksud adalah ayah atau ibu dari garis keilmuan bukan dari garis keturunan.

Kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua tergambar pada penggunaan term إِحْسَٰنًا (ihsanan), yang mana term ini digunakan untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada pihak lain dan kedua, adalah perbuatan baik. Berbeda dengan term حَسَنٌ  (hasanun) yang hanya berarti baik. Olehnya itu term tersebut memiliki makna lebih luas dari sekedar kata baik, memberi nikmat atau memberi nafkah. Demikian penjelasan Raghib al-Ashfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufradat al-Fadz al-Qur’an.

Ihsan yang dalam bahasa keseharian kita adalah bakti kepada orang tua, yang oleh agama memerintahkan untuk bersikap sopan kepada keduanya baik itu dari segi ucapan maupun perbuatan. Ketika al-Qur’an berbicara tentang  orang tua biasanya di pakai huruf penghubung Bi ( ب ) yang mengandung makna ( إلصاق ) atau kelekatan. Berbeda halnya ketika penggunaan kata  إلي)) yang mengandung makna jarak. Hal ini diharapakan kepada seorang anak agar mampu melekatkan hatinya kepada orang tua.

Salah satu ujian berat bagi seorang anak adalah ketika mendapati orang tuanya dalam keadaan usia lanjut, dimana ia dituntut untuk memberikan pelayanan yang penuh dengan kasih sayang serta mengindari kata-kata yang kasar atau yang dapat melukai perasaannya. Ada yang memahami bahwa term  أفٍ tidak hanya sebatas mengatakan “ah”, akan tetapi maknanya bisa lebih dari itu. Artinya segala sesuatu yang dapat membuat hati atau perasaan orang tua (ibu/bapak) kecewa, maka masuk dalam kategori أفٍ. Hal ini ditegaskan agar seorang anak mampu menjaga akhlak kepada kedua orang tuanya.

Do’a malaikat Jiibril yang kedua ini memberikan tuntunan kepada kita bahwa betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, dan tidak boleh mendurhakainya. Sebab jangankan masuk ke dalam surga, mencium baunya saja tidak akan mampu bagi anak yang durhaka kepada kedua orang tua demikian penjelasan Nabi dalam salah satu hadisnya.

Selanjutnya malaikat Jibril melanjutkan do’anya yang ketiga, ia mengatakan bahwa “barangsiapa yang mendengarkan namamu disebut wahai Rasulullah, lalu dia tidak bershalawat kepadamu,  ketika ia meninggal masukkanlah  ke dalam neraka”, maka Nabi pun mengucapkan amin.

Demikianlah do’a malaikat jibril yang diaminkan oleh Rasulullah saw. Tentunya do’a ini pasti diijabah, sebab yang berdo’a adalah makhluk yang tidak pernah ingkar, dan yang mengaminkan adalah manusia yang paling dekat dengan Allah swt. Wallahu ‘alam bish shawab.

 

Ternate, 30 Juni 2020

 


asasas

 sasasasas