Rabu, 28 Oktober 2020

Pemuda Tempo Doloe VS Pemuda Jatuh Tempo (Refleksi Hari Sumpah Pemuda)

     Pemuda Tempo Doloe VS Pemuda Jatuh Tempo

(Refleksi Hari Sumpah Pemuda)


Setiap 28 Oktober kita senantiasa diingatkan pada sebuah peristiwa sejarah yang sarat akan makna. Hari ini tepat perayaannya yang ke-92 dari kongres pemuda II. Meskipun istilah Sumpah Pemuda tidak muncul dalam putusan kongres, akan tetapi hal tersebut tetap menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda.

Para pemuda tempo dulu telah banyak mengukir prestasi baik itu bagi dirinya maupun untuk kemajuan bangsanya. Misalnya Muhammad Yamin pemuda asal sumatera Barat yang telah memberikan kontribusi besar untuk menumbuhkan kesadaran serta mampu mengobarkan semangat juang para pemuda pemudi lewat kumpulan sajak-sajaknya, agar mereka mau bersatu untuk melawan para penjajah. Dan hingga kini jasa-jasanya masih terus dikenang sebagai salah seorang pelopor lahirnya Sumpah Pemuda.

Lain halnya dengan Baharuddin Jusuf  Habibie, yaitu pemuda asal Sulawesi Selatan yang telah berhasil mengukir segudang prestasi di negeri Hitler atau Nazi (Jerman). Mulai dari kejeniusannya dalam membuat kereta pengangkut baarang dalam jumlah yang besar hingga keberhasilannya membuat pesawat terbang. Bahkan Ia sempat dijuluki “Mr. Crack” karena berhasil menemukan sebuah teori crack (keretakan) pada bibidang teknologi pesawat terbang dan penemuannya ini telah dipakai oleh perusahaan maskapai di dunia. Hingga kini beliau mencatatkan dirinya sebagai pemilik 46 hak paten di bidang aeronautika. Desain serta konstruksi pesawat udara yang telah dipatenkan tersebut, juga telah diakui oleh dunia Internasional.

Peringatan sejarah  Sumpah Pemuda seharusnya tidak hanya dilakukan secara simbolis saja, melainkan harus ada kontribusi yang jelas untuk memajukan bangsa. Bukan hanya sekedar wacana yang selalu digiring menjadi pelengkap diskusi. Bahkan Presiden Soekarno pernah menaruh harapan besar kepada para pemuda yang dengan lantang Ia mengatakan dalam pidatonya bahwa “Beri Aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Dan Beri Aku 10 Pemuda Niscaya  akan Kuguncangkan Dunia” .

Begitu pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa, sehingga ditangannya jualah kita menaruh harapan yang besar untuk bisa berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa yang lainnya. Namun ketika mereka lengah dan lambat sadar diri, maka bangsanya pun tidak akan bertaji. bahkan hanya akan menjadi jajahan serta bawahan oleh bangsa-bangsa yang lain.

Pemuda tempo dulu telah memperlihatkan teladan yang berarti serta mengukir segudang prestasi. Dan mereka juga pasti berharap diri agar para pemuda masa kini dapat meneruskan tradisi prestasi bukan sebagai bangsa yang hanya menjadi penikmat modernisasi, serta tak bertaji dizaman yang serba canggih.

Sudah seharusnya pemuda masa kini segera sadar diri untuk memberikan prestasi, berfikir cerdas dan mandiri, tidak semata-mata mengandalkan kekuasaan, kekayaan ataupun ketenaran ayah bundanya. Seperti pepatah Arab yang mengatakan    

إِنَّ الفَتَى مَنْ يَقُوْلُ ها أَنَذَا   #      وَلَيْسَ الفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَبِي

Artinya:

“Pemuda yang Sesungguhnya adalah yang berani mengatakan inilah Aku # dan bukan yang hanya berani mengatakan inilah Ayahku”.

Pemuda masa kini adalah harapan bangsa. Ditangannyalah nasib serta maju mundurnya sebuah negara. Jika kehidupannya hanya dihiasi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, apalagi bermalas-malasan, maka Ia termasuk pemuda yang telah jatuh tempo. Maksudnya adalah pemuda tersebut mati sebelum waktunya. Tentu yang dimaksud bukan mati secara jasad melainkan mati secara prestasi. Ia tidak akan dikenang maupun dikenal oleh generasi berikutnya. Demikanlah pemuda yang jatuh tempo yang hanya tahu menghabiskan hari-harinya begitu saja tanpa ada hasil ataupun prestasi. Bahkan bisa jadi Ia hanya akan menjadi beban negara.

Dengan adanya peringatan peristiwa sejarah semacam ini, diharapkan para pemuda masa kini dengan penuh kesadarannya, berusaha untuk menggali potensi diri agar dapat memberikan kontribusi yang berarti serta kembali menempatkan Indonesia sebagai macan asia yang disegani.

“Salam Soempah Poemuda”

 

 

Ternate, 28 Oktober 2020

 

  

Sabtu, 17 Oktober 2020

Komunikasi Antarsel sebagai cerminan hidup yang lebih manusiawi

Komunikasi Antarsel sebagai cerminan hidup yang lebih manusiawi

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan berbagai keunikan. Salah satunya adalah adanya sel sebagai bahan dasar pembentukan jaringan tubuh. Manusia juga mempunyai molekul kimia yag terdiri atas dua bentuk yaitu bentuk bebas dan terikat, bersifat dinamis dan bergerak serta dapat berinteraksi membentuk unit seluler sehingga membentuk organel yang selanjutnya membentuk sel. Jika diteliti lebih jauh, maka kita akan mendapati stuktur anatomi jaringan tubuh manusia yang terdiri dari berbagai sel yang hidup secara berkelompok dan dapat berkomunikasi seperti layaknya manusia.

Disamping itu, sel juga dapat mengeluarkan zat anti bodi untuk melawan zat racun atau toksin. Sel-sel yang telah terkontaminasi racun, dengan cepat akan menyesuaikan diri bahkan akan mengubah metabolismenya untuk mengatasi keadaan darurat tersebut. Hal ini terjadi dikarenakan adanya informasi berita dari luar ke dalam sel, bahkan sampai ke inti sel. Sinyal transduksi dapat berupa urutan reaksi kimia yang memberitahukan berita dari luar ke dalam sel bukan saja bertujuan sebagai pertahanan sel tersebut, melainkan termasuk  program kematian sel atau apoptosis. Ajaibnya, program apoptosis ini bersifat individual, tanpa memberikan informasi kepada sel-sel yang lain. 

Perubahan lingkungan pada suatu sel, akan menyebabkan perubahan pada sel lainnnya. Perubahan atau sinyal tersebut dapat berasal dari  sel tetangganya dan dapat pula bersal dari sel yang jauh, dan anehnya tidak ada komunikasi  atau jalur yang memberi sinyal ke sel yang lain kalau suatu sel akan mati.

Sebagaimana diketahui bahwa di antara sel ada yang berumur pendek,  sedang, bahkan ada pula yang berumur panjang, sesuai dengan hidup manusia yang bersangkutan. Umur sel mukosa dan eptel kulit hanya beberapa jam hingga hitungan hari. Adapun umur sel darah merah lebih kurang 120 hari dan umur sel saraf dapat bertahan hingga bertahun-tahun tergantung usia manusianya. Demikian penjelasan dari M. Nurhalim Sahib salah seorang pakar bidang biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung.

Fenomena seluler tersebut, mengajarkan kepada kita tentang rahasia kematian. Dimana Allah tetap menjaga kerahasiaannya bahkan sampai  ke tingkat seluler. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS al Waqiah: 60

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

Terjemah:

“Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,” (QS. Al-Waqi’ah:60).

 

Imam Thabathaba’i memahami ayat tersebut sebagai uraian tentang kekuasaan Allah dalam mengatur segala urusan ciptaan-Nya. Ia berpendapat bahwa wujud manusia yang serba terbatas, mulai dari awal penciptaan hingga akhir kehidupannya di dunia dengan segala hal yang  berkaitan dengannya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT.

Para Ilmuan telah menemukan bahwa sel-sel manusia, tumbuhan dan hewan, di dalamnya terdapat DNA genom yang dikhususkan waktu kematian selnya. Saat para ilmuan melakukan percobaan memperpanjang umur pada beberapa sel hewan seperti lalat, justru sel-sel tersebut berubah menjadi sel kanker, sel tersebut bisa dikatakan mati atau berubah menjadi sel kanker, dan berakhir dengan kematian.

Demikian halnya dengan manusia, ketika mencoba untuk memperpanjang kehidupan sel manusia, dengan sendirinya sel-sel akan berubah menjadi sel kanker mematikan, sehingga para ilmuan akhirnya memutuskan bahwa kematian tidak kalah penting untuk kehidupan, dan bahwa ia tidak pernah bisa dihentikan. Oleh sebab itu Allah befirman dalam QS. Ali Imran: 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْت

Terjemah:

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati,”

 

Bila pada tingkat molekul bisa berkomunikasi dan bermasyarakat dengan baik, mengapa manusia tidak?. Hal ini perlu kita sadari dan hayati. Adanya komunukasi antarasel dan antara molekul itulah yang menyebabkan manusia dapat hidup normal. Berkaitan dengan hal tersebut, telah dikembangkan pula bahwa molekul dari seseorang dapat berinteraksi dengan molekul orang lain, bahkan molekul tertentu dapat digunakan untuk mengenal Ibu dengan anak atau ayah dengan anaknya.

Lebih mutakhir lagi, pengenalan antar suku dan bangsa dapat melalui melokul DNA. Demikian firman Allah dalam QS al-Hujurat ayat 13 yang terjemahannya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”.

Olehnya itu salah satu hikmah diciptakannya sel maupun molekul yang berbeda-beda baik itu sifat maupun bentuknya, tidak lain agar bisa berkomunikasi. Jika sel atau molekul dapatberkomunikasi dengan baik, mengapa manusia tidak ?. Mari berkomunikasi, berinteraksi agar tercipta kehidupan yang lebih manusiawi.

 

Wallahu ‘ala>m bish Shawa>b

     

 

Ternate, 18 Oktober 2020

Senin, 05 Oktober 2020

Prestasi = (Keterampilan atau Penampilan) ?

Prestasi = (Keterampilan atau Penampilan) ?


Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

Meraih prestasi masih menjadi motif utama dalam melakukan sebuah kompetisi. Namun seperti yang kita ketahui bersama, tingkat kemampuan maupun keampuhan manusia tidaklah sama. Ada yang mengalami jatuh bangun, terseok-seok, geloyoran dan ada pula yang memiliki kemampuan yang luar biasa bahkan diatas rata-rata.

Bagi yang tidak kuat dan lemah dalam berkompetisi, dengan cepat akan tersisih dan tidak sedikit yang akan merasa iri, sehingga segala daya dan upaya dikerahkan untuk mempertahankan harga diri. Padahal sebuah prestasi dalam kompetisi tergantung pada motivasi atau kemauan, kemampuan, maupun keampuhan.

Dan bukan sesuatu yang mengherankan ketika banyak orang yang melakukan berbagai cara untuk ditempuhnya demi mempertahankan gengsi dan harga diri, tanpa peduli apakah itu halal atau haram, bahkan merugikan diri sendiri atau orang lain. Barangkali falsafah Machiavvelli telah merasuk ke dalam jiwanya sehingga mereka beranggapan bahwa “dalam tujuan bisa menghalalkan berbagai cara”. Mereka yang kental dengan warisan Belanda menyebutnya “het doel heiligh de middelen”, yang keinggris-inggrisan menyebutnya “the end justtifies the mean” atau yang berlaku di kalangan Arab dengan istilah “al-ghayatu tubarirul washilah”.

Olehnya itu tidaklah mengherankan bila kita menyaksikan pola tingkah manusia guna sekedar meraih dan memperoleh pujian dan sanjungan, melalui pola tingkah yang bermacam-macam, tanpa menempuh jalan kesulitan. Seorang mahasiswa misalnya, agar dirinya dianggap pandai melalui takaran dan ukuran IP (indeks prestasi), maka Ia pun mengupayakan untuk mendatangi dosennya atau dengan cara lain agar IP-nya bisa tinggi. kita juga tidak heran bila ada orang yang mengaku usahawan, ketika agunan atau jaminannya diperiksa oleh pihak bank guna memperoleh fasilitas kredit, maka diupayakanlah agar tampak bonafid dengan mendatangkan peralatan mesin serta tenaga kerja milik temannya.

Bahkan pernah terjadi disuatu daerah, yaitu perlombaan desa, dan desa tersebut pernah menjuarai tingkat nasional walaupun yang ditonjolakan hanyalah dari segi penampilan saja tanpa mengedepankan adanya keterampilan. Tentu penilaian ini membuat pihak lain menjadi bengong dan bingung, serta bertanya-tanya mengapa bisa mendapat predikat juara?. Padahal kenyataannya di desa tersebut sama sekali tidak terdapat kemajuan dan kelajuan.  

Demikian pula akibat yang didapat dari usahawan atau mahasiswa seperti diatas. Tentu saja akibat negatifnya lebih besar dari segi positifnya, mudharatnya lebih besar dari pada manfaatnya. Alasannya dikarenakan amal perbuatannya hanya bersifat suguhan bukan bersifat sungguhan. Bila  hal tersebut ditelusuri lebih jauh, maka kita akan mendapati sikap menipu diri (musyawilah), karena antara penampilan dengan keterampilan tidak sama, antara pengakuan dengan kelakuan tidak seimbang, dan akibatnya antara harapan dan garapan tidak mampu menunjang masa depan. Itulah yang disebut nifaq dalam hal prestasi yang hanya semata-mata mengejar prestise.

Wallahu ‘alam bish shawab

 

Ternate, 6 Oktober 2020

 

 

 

 

Sabtu, 03 Oktober 2020

Manusia Statis VS Manusia Kompetitif

 Manusia Statis VS Manusia Kompetitif

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan sebaik-baik bentuknya. Demikian redaksi al-Qur’an (QS al-Tin:4) mengenai hal tersebut. Namun dibalik bentuk terbaiknya, terdapat dua jenis karakter atau tipe yang secara umum dapat mendiami diri manusia. Yaitu, tipe manusia yang statis dan manusia kompetitif.

Makna statis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak memperlihatkan adanya pergerakan, cenderung diam, dan tidak aktif. Sedangkan kompetitif diartikan sebagai sesuatu hal yang berkaitan tentang kompetisi (persaingan) atau dapat juga berarti memiliki kemauan yang keras.

Dalam hal kaitannya dengan tipe manusia, jenis manusia yang statis terkadang menyandarkan segala ketergantungan hidupnya baik itu pada kelompok, lembaga atau seseorang yang memberinya naungan. Dan bahkan sangat tergantung pada kondisi lingkungannya. Tipe seperti ini juga terkadang memiliki karakter yang mudah puas terhadap sesuatu, malas mengembangkan imajinasi menjadi prestasi, dan bahkan lebih mendominasi kebiasaan buruknya seperti tidur pulas, dalam artian tertidurnya ide-ide cemerlang hingga brilian, dan akhirnya cita-cita hanyalah tinggal sebatas harapan serta garapan yang takkan pernah kesampaian.   

Hal yang berbeda ditunjukkan oleh tipe manusia kompetitif, dimana tipe yang satu ini memiliki pendirian serta kemandirian yang diwujudkan dalam bentuk amal/ perbuatan (action) dengan berorientasi pada prestasi atau hasil usaha. Manusia yang memiliki jiwa kompetitif senantiasa aktif serta kreatif dalam mengelola hidup, tidak mengemis-ngemis untuk mendapatkan fasilitas, apalagi mewujudkan sesuatu dengan jalan pintas.

Berhadapan dengan sebuah resiko bukan menjadi sebuah persoalan. Karena bagi tipe manusia kompetitif menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah atau wajar. Mereka punya prinsip bahwa tidak ada orang yang sukses tanpa memliki keberanian untuk mengambil resiko, tentunya melalui perhitungan yang jelas. Dan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bila amal perbuatan terealisasi dengan usaha secara mandiri. Ketika diukur dengan sebuah evaluasi atau supervisi, dengan bangga dan mendabik dada meraka seraya mengucap syukur kepada sang maha kuasa atas segala karunia, serta telah mengangkat gengsi (prestise) dan harga diri.

Olehnya itu tipe manusia statis membutuhkan bimbingan yang khusus untuk mengembangkan setiap ide-ide atau gagasan. Hal ini dimaksudkan agar supaya setiap angan dan cita-citanya dapat terealisasi atau tertuang dalam bentuk amal perbuatan, bukan hanya sekedar bunga-bunga impian yang tak kunjung kesampaian.

Demikian juga dengan tipe manusia kompetitf, agar terus mengembangkan daya kreasi serta imajinasi, hingga memelihara sebuah tradisi yang positif , serta meningkatkan prestasi agar mampu memiliki daya saing.

 

Ternate, 4 Oktober 2020

 


Senin, 28 September 2020

Antara Berjiwa Kerdil dan Berjiwa Besar

 

Antara Berjiwa Kerdil dan Berjiwa Besar

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin



Dalam mengarungi samudera kehidupan, manusia tidak pernah terlepas dari yang namanya ujian dan cobaan. Sebab hal tersebut merupakan bahagian dari tantangan. Bahkan menurut salah seorang sejarawan terkenal yaitu Arnold Toynbee mengatakan bahwa jika masyarakat mau maju, maka harus melalui tantangan. Tantangan tersebut tidak dimaksudkan untuk mematikan semangat, melainkan untuk menggugah semangat agar senantiasa tanggap terhadap lingkungannya.

Seperti halnya dalam sebuah kompetisi, seseorang yang berjiwa kerdil biasanya memiliki keberanian untuk tampil jika Ia menganggap usahanya akan berhasil, akan tetapi bila ada indikasi kegagalan, maka dengan segera Ia akan mundur. Bahkan jika Ia kalah, biasanya cenderung menyalahkan orang lain. Berbeda halnya dengan orang yang berjiwa besar, Ia lebih senang menghadapi kehidupan dengan penuh tantangan, bahkan menganggapnya sebagai lambang dari dinamika serta romantika kehidupan.

Meraka juga  berpendapat bahwa hidup yang penuh dengan ujian, akan lebih memberi hikmah dibandingkan dengan hidup yang penuh dengan pujian, dan senantiasa mendorong serta menggiring kita bersikap dewasa, sadar hingga sabar atas segala kehendak yang maha kuasa. Lain halnya dengan seseorang yang hidup dalam ujaran pujian, biasanya ia akan merasa serba bisa dalam segala hal, dan akhirnya bukan solusi yang diberikan melainkan ia akan menyeret serta menjerat kita ke lubang bahaya. Semuanya ini dikarenakan ketidak tahuan terhadap kelemahan serta kekurangannya.

Setiap manusia akan diuji sesuai dengan kadar dan keadaan, porsi, serta sesuai dengan posisinya pada ruang gerak kehidupan. Hal ini sejalan dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah dalam QS al-Baqarah: 286

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Terjemah:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.”

Ulama tafsir memberikan komentar terhadap ayat di atas, bahwa batas kemampuan setiap manusia berbeda-beda dalam menghadapi ujian dari Allah. Misalnya ujian yang diberikan kepada Nabi atau Rasul. Tentunya ujian pada tingkatan tersebut lebih berat dari pada manusia biasa. sebut saja Rasulullah Muhammad SAW yang dengan sabar mengahadapi kaum jahiliyah yang setiap saat datang menerornya serta mengancam keselamatan jiwanya.

Dalam hal yang berkaitan dengan persoalan lingkungan sosial, ujian tersebut dimulai dari sejak bagaimana mengatur hubungan keluarga, tetangga, sahabat, kerabat, lingkungan masyarakat baik itu yang terjauh maupun yang terdekat. Selain lingkungan sosial, dalam hal persoalan ekonomi juga tak kalah hebat bentuk ujiannya. Mulai dari kesulitan/kepahitan hidup, terputusnya mata pencaharian, sumber dana berkurang dikarenakan bencana yang kian melanda, hingga susahnya/sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan.

Kondisi seperti di atas, bila kita tidak berani mengubah kepasrahan menjadi optimis, maka ujian atau cobaan tersebut akan menjadi penghambat untuk melakukan pembenahan dalam persoalan kehidupan. Dan hanya akan duduk berpangku tangan dalam menghadapi rintangan maupun cobaan yang dihadapinya.    

Olehnya itu, ayat di atas menjadi pengingat bagi kita saat sedang terpuruk serta punya banyak beban hidup. tentunya sebagai orang yang beriman, berserah diri atau tawakkal kepada Allah menjadi senjata terakhir setelah melaksanakan do’a dan usaha.  

 

Wallahu ‘Alam Bi al- Shawab

 

 

Ternate, 29 Agustus 2020

 

Minggu, 20 September 2020

Watak Negatif Dihilangkan Atau Dibudidayakan ?

Watak Negatif Dihilangkan Atau Dibudidayakan ?

Oleh : Muhammad Irfan Hasanuddin



Allah swt menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuknya. Bahkan kesempurnaan makhluk yang satu ini dilengkapi dengan sifat (watak) positif maupun negatif. Misalnya, sifat yang positif seperti sabar, ikhlas dalam menjalani ujian serta cobaan, mempunyai kemauan yang kuat, pantang menyerah atau tidak gampang berputus asa, memliki kepercayaan diri, mengakui kelemahan, menerima kritikan,  mendahulukan perestasi dari pada prestise dan lain sebagainya.

Sedangkan sifat (watak) negatif misalnya, menginginkan kesuksesan tanpa melalui proses, mudah menyerah serta berputus asa, takut akan resiko, tidak percaya diri, merasa paling sempurna, merasa paling berjasa, bermental kerdil, serta suka menunda-nunda waktu.

Tetunya sifat positif diatas seharusnya ditumbuhkan, dikembangkan, hingga dipelihara. Sebab watak yang positif akan memberi pengaruh terhadap capain keberhasilan seseorang, atau dengan kata lain memberikan motivasi terhadap seseorang untuk lebih giat lagi serta penuh semangat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.

            Adapun sifat negatif tersebut, mestinya ditumbangkan, dilawan bahkan harus  dihilangkan. Sebab sifat tersebut hanya akan menjadi penghambat dalam melakukan sebuah aktifitas. Bila perilaku manusia dipakai menjadi salah satu takaran dan ukuran, salah persepsi dan estimasi, maka boleh jadi yang negatif seakan-akan menjadi positif. Akhirnya ketakutan akan resiko, diberi ulasan serta alasan untuk menjaga kehati-hatian. Demikian pula  sifat tergesa-gesa untuk  cepat meraih dan memperoleh sesuatu tanpa bersusah payah yang juga terkadang  diberi bumbu dalih mapun dalil sebagai orang yang memiliki semangat yang tinggi.

Memiliki watak negatif biasanya tidak akan mencari, akan tetapi lebih cenderung menunggu. Padahal diluar sana semua orang sementara berlomba-lomba berebut untuk meraih dan memperoleh kesuksesan. Bagaimana pun cerdasnya otak seseorang, jika masih ada jurang pemisah antara ilmu dengan amal atau antara tahu dengan berbuat maka kesuksesan hanya akan menjadi sebatas harapan atau  impian yang tidak akan pernah kesampaian.

Demikian pula kehebatan otak seseorang, bila tidak diimbangi dengan watak, maka ia hanya akan menjadi sebuah rumus diatas kertas yang tanpa ditunjukkan melalui aktifitas, atau hanya akan menjadi sebuah angan-angan tentang sebuah rencana yang tidak dapat terlaksana, sebab hanya menonjolkan kemauan diatas kemampuan.

Disisi lain kadang kita mendapati suatu problema dimasyarakat tentang adanya orang pintar namun nasibnya terlantar, kadang juga banyak pemikir akan tetapi kehidupannnya fakir. Tentunya hal tersebut bukanlah tanpa alasan maupun ulasan. Pada umumnya mereka menganggap bahwa yang menjadi faktor utama keberhasilan seseorang adalah nasib. Padahal Allah telah memberikan isyarat bahwa Ia tidak akan merubah nasib suatu kaum melainkan mereka merubah nasibnya sendiri (QS Ar-Ra’d :11).

Terlepas dari itu semua, nasib akan menjadi baik jika ada kerja sama antara kesempatan dan keahlian. Meskipun mempunyai keahlian, namun tidak mempunyai kesempatan maka ia tidak akan dapat meraih dan mendapatkan nasib yang baik. Kesempatan itu tidaklah ditunggu, akan tetapi dicari. Peluang itu bukan datang melalui harap, akan tetapi harus digarap. Kehidupan yang baik itu bukan sekedar dicita-citakan, melainkan harus diciptakan.

Olehnya itu kenalilah watak negatif kita agar lebih mudah untuk dihilangkan. Jika tidak mampu menghilangkan seluruhnya, minimal bisa mengimbanginya, agar selalu mempunyai titik terang dalam setiap harapan, serta mempunyai pijakan sebelum mengambil tindakan.

 

Ternate 20 September 2020

Senin, 14 September 2020

Yang Hilang Dari Kita (Sombere’ sebagai warisan budaya pemersatu bangsa)

 Yang Hilang Dari Kita

(Sombere’ sebagai warisan budaya pemersatu bangsa)

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

Sombere’ adalah sebuah istilah yang sangat populer pada masyarakat Bugis-Makassar. Bahkan salah satu mantan walikota Makassar pernah mengembalikan ruh dari istilah tersebut, mengingat maknanya makin hari kian meredup. Dan dikhawatirkan generasi muda tidak lagi paham terhadap warisan budaya tersebut.

Istilah sombere’ sendiri jika diartikan ke dalam bahasa indonesia, bisa berarti ramah, peduli,  suka mengobrol, terbuka dan mudah bergaul dengan siapa pun.  Dalam kamus populer Inggris-Makassar dan Indonesia-Makassar yang disusun oleh Drs emil Tamanduk dan Hasri, sombere’ diartikan sebagai ramah-tamah dan orang peramah disebut dengan istilah tu sombere’.

Budaya yang satu ini sejak dahulu telah dipraktikkan oleh para leluhur masyarakat Bugis-Makassar, bahkan terkadang para orang tua dahulu selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk bergaul dengan siapa saja tanpa melihat kasta, jabatan, suku, maupun agamanya. Kini nilai-nilai budaya sombere’ sudah mulai memudar. Hal tersebut bisa ditandai dengan banyaknya orang yang tidak lagi saling menghargai, membenci bahkan saling memusuhi antar sesama, padahal kadang hanya disebabkan oleh persoalan sepeleh.

Jika ditinjau dari segi Agama (Islam), maka kita akan mendapati beberapa dalil yang berkaitan tentang bagaimana seharusnya bergaul  antar sesama. Salah satunya adalah Q.S Ali Imran: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Terjemah:

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal”.

 

Asbab al-Nuzul dari ayat ini, berkaitan tentang respon Nabi dalam menyikapi kekalahan umat Islam pada perang Uhud. Dimana pada saat itu banyak dari kalangan umat Islam yang syahid dan sebahagiannya lagi kembali lebih awal ke Madinah tanpa mengindahkan instruksi dari Nabi saw.

Beberapa poin penting dari ayat ini telah dijelaskan oleh Ibnu Kasir dalam kitab Tafsirnya, Ia mengatakan bahwa sikap lemah lembut kepada mereka (orang-orang yang telah meninggalkan medan perang sebelum waktunya), adalah bahagian dari rahmat Allah swt untuk mu (Muhammad) dan mereka.

Sayyid Qutub menambahkan bahwa seorang pemimpin sudah sepantasnya memiliki sikap yang penuh kasih sayang, sebab manusia selalu butuh naungan. Olehnya itu belajarlah dari akhlak Rasulullah saw yang memiliki hati yang  santun serta penuh  dengan kelembutan.  Disamping itu, ayat ini juga mengajarkan kepada kita agar senantiasa memiliki sifat pemaaf, Demokratis, tawakkal, serta mengedepankan hasil musyawarah ketika hendak memutuskan perkara.

Hal yang senada juga dijelaskan pada sebuah hadis yang berasal dari riwayat Thabrani dan Daraquthni.  Nabi saw bersabda: “orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia”.

Beberapa sikap maupun sifat yang telah disebutkan pada kedua dalil di atas, menjadi bukti bahwa Sombere’ sebagai warisan budaya yang nilai-nilainya sejalan dengan perintah agama yang telah banyak dijelaskan pada teks-teks keagamaan baik itu al-Qur’an maupun Hadis Nabi. Olehnya itu kearifan lokal yang satu ini menjadi perekat dari setiap hubungan yang retak, dan dapat menghilangkan  sekat dari setiap interaksi yang ada dimasyarakat. 

Baca, Ajarkan, Amalkan, serta Lestarikan agar anak cucu kita bisa terus hidup dengan berbudaya serta lebih beradab.

والله أعلم بالصواب

Ternate 15 September 2020

asasas

 sasasasas