Senin, 22 Februari 2021

Ust Wandi dalam kenangan

 Ust Wandi dalam Kenangan


Ust Wandi, demikian sapaan akrab beliau. Orang yang murah senyum senang menghibur serta dapat menghidupkan suasana. Beliau ada sosok pekerja profesional yang senantiasa melaksanakan tugas utamanya sebagai abdi negara di salah satu sekolah negeri. Namun kewajibannya di pesantren Annahdlah Makassar tak pernah Ia abaikan. Sosok beliau tentu sangat dirindukan oleh para santri, perangainya yang ramah membuat gampang dan mudah bergaul dengan siapa saja, tanpa mengenal batasan usia.

Kita semua sangat kehilangan, meskipun tidak pernah diajar langsung oleh beliau, namun saya tidak sekedar menganggapnya sebagai rekan kerja, melainkan menganggapnya sebagai guru saya, sebab secara senioritas di Pesantren serta umur terpaut jauh dengan saya. Beliau  pernah bilang  “jangan panggil saya ust, karena tidak pantaski, saya bukan orang yang mendalam pemahaman agamanya, saya hanya guru matematika”, demikian ucapnya. Sikap tawadhu seperti inilah kadang terlontar dari mulutnya, bahkan kadang minder dengan guru-guru lain yang lebih mendalam pemahaman agamanya.

Saya banyak belajar dari beliau tentang bagaimana mengahadapi santri yang punya karakter yang beragam. Dimana saya perhatikan bahwa karakter pengajaran yang Ia pakai adalah santai tapi serius bahkan ketika berada diluar kelas, Ia tidak memposisikan dirinya  sebagai guru, melainkan sebagai teman dan tidak segan untuk berbaur serta bercanda bersama dengan para santri. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Ia disenangi oleh para santri.

Pelajaran lain yang saya dapatkan dari beliau adalah, Ia tetap memperlihatkan keramahan dan senyuman khasnya kepada orang lain,  padahal bisa jadi ada banyak kesedihan yang Ia sembunyikan. Dan agaknya tidak berlebihan ketika saya menyebutnya dengan istilah guru yang profesional dan mempunyai integritas yang tinggi.

Kini sosok beliau tidak lagi bisa ditemui, namun amal baktinya selama mengabdikan diri utamanya kepada pesantren Annahdlah, dan akan menjadi saksi nyata bahwa Ia orang yang sangat baik. Semoga amal jariyah yang pernah ditorehkannya, akan mengantarkannya ke dalam surga yang Allah telah janjikan. Selamat jalan Ust H. Wandi, terima kasih atas segalanya jasa-jasamu akan selalu kami kenang. Allahummagfir lahu, war hamhu, wa afihi wafu’anhu.

 

 

Ternate, 21-02- 2021

 

Sabtu, 20 Februari 2021

Inspirasi Qur’ani (Larangan bersikap dan bersifat tajassus )

                     Inspirasi Qur’ani (Larangan bersikap dan bersifat tajassus )

Oleh:

Muhammad Irfan Hasanuddin


 

Beberapa waktu yang lalu, pengguna media sosial kembali dihebohkan dengan pemberitaan seorang artis ternama yang diduga merebut lelaki orang (suami) dari istri yang sah atau lebih populer dengan sebutan PELAKOR. Pengguna media sosialpun tak mau melewatkan pemberitaan yang satu ini. Akhirnya komentar-komentar pedaspun bertebaran dimana-mana ibarat badai yang menghantam sebuah negeri.

Pujian-pujian yang pernah disematkan kepadanya sebagai salah satu generasi milenial yang telah membumikan shalawat utamanya kepada generasi muda, kini telah tenggelam oleh hujatan yang kian menghantam.

Penulispun teringat pada sebuah kisah yang pernah populer dimedia sosial, dimana salah seorang guru matematika menuliskan materi soal perkalian beserta jawabannya di atas papan tulis. Terdapat 10 soal yang Ia tulis lengkap dengan jawabannya masing-masing, akan tetapi nampak terlihat sebuah kejanggalan, dimana pada deretan pertama Ia menuliskan jawaban yang salah, yaitu 5 x 1 = 7. Setelah selesai menulis dipapan tulis, Ia pun berdiri dihadapan para murid yang sedang tertawa disebabkan oleh jawaban salah yang telah ditulisnya.

Beberapa menit kemudian, para muridnya diminta untuk diam sejenak untuk mendengarkannya berbicara. Ia mengatakan bahwa “saya tahu bahwa kalian tertawa karena saya telah menuliskan jawaban yang salah pada deretan pertama”, hal tersebut sengaja saya lakukan karena saya ingin kalian belajar sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan. Ketahuilah para muridku sekalian bahwa seperti itulah gambaran dunia yang kelak akan kalian hadapi. Kalian saksikan sendiri bahwa saya telah menjawab benar sebanyak 9 kali, akan tetapi tidak satupun dari kalian yang memujiku, malahan kalian semua hanya tertawa terbahak-bahak bahkan mengkritik saya dikarenakan hanya satu jawaban salah yang saya lakukan.

Olehnya itu kalian harus menyadari dan merenungkannya bahwa dunia tidak akan memujimu untuk hal-hal baik yang telah kalian lakukan meskipun berulang kali, akan tetapi dunia akan siap mengkritik dan menertawakan kalian untuk sebuah kesalahan meskipun hal tersebut terlihat sepeleh. Namun janganlah berkecil hati, teruslah bangkit di atas tertawaan dan berbagai kritikan, kuatkanlah hatimu, karena Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya yang mau bersabar dalam menghadapi cobaan dunia. Akhirnya para muridpun terdiam dan terlihat malu seraya menundukkan kepala, mereka menyesali perbuatannya yang telah menertawakan Gurunya tersebut.

Dari kasus tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa terkadang dunia ini tidak akan kehabisan stok dari orang-orang yang sangat siap dan sigap untuk mengkritik serta mencari-cari kesalahan kita dari segala arah, yang dalam bahasa agama di sebut dengan istilah tajassus.      

Tajassus adalah sebuah term yang biasanya dipakai untuk mematai-matai seseorang (spionase) atau bisa diartikan sebagai orang yang sengaja mengorek-orek sebuah berita dengan tujuan untuk mendapatkan informasi. Term tersebut berasal dari kata jassa-yajussu-jassan yang kemudian pada awal katanya diberi imbuhan huruf ta dan diberi tasydid pada huruf sinnya, maka menjadilah kata tajassasah-yatajassasu-tajassusan yang memiliki makna menyelidiki atau memata-matai. Hal ini senada dengan yang dinukilkan oleh  Imam Ibn Manzhur dalam kitabnya lisan al-‘Arab yang memaknai  tajassus sebagai “bahatsa ‘anhu wa fahasha” artinya mencari berita atau menyelidiki.

Dari definisi tersebut, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan tajassus ialah mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara menyelidiki atau memata-matainya.  Term ini juga memiliki kemiripan dengan bahasa yang sering digunakan oleh media sosial, yaitu kata ngejust atau menjust. Dimana term ini memiliki makna menilai, menghakimi, menggelari, bahkan lebih spesifik dengan istilah mengkritisi, mensiriki/ dengki atau mencemburui. Sesuai dengan asal katanya yang diambil dari bahasa inggris yaitu kata “jugde”yang berarti hakim atau wasit.

Apapun maknanya, istilah tajassus atau yang lebih populer dikalangan milenial dengan sebutan ngejust, termasuk akhlak yang tercela dan bahkan keterangan dalam al-Qur’an maupun Hadis disarankan untuk menjauhinya. Allah SWT berfirman dalam QS al-Hujurat ayat 12     

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Terjemah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang”.

Pada ayat tersebut, Allah swt memerintahkan kita agar menjauhi perbuatan prasangka (yang berlebihan), sebab hal tersebut dapat mengarahkan kita kepada perbuatan dosa. Kemudian Allah swt melanjutkan ayatnya dengan melarang kita untuk menggunjing seseorang hingga mencari-cari kesalahannya, baik itu dengan cara menyelidikinya secara langsung maupun bertanya kepada temannya. Sesuai dengan term tajassasu yang oleh mayoritas ulama tafsir menafsirkannya dengan makna mencari-cari kesalahan orang lain, tujuannya semata-mata untuk melakukan tindak kejahatan. Berbeda halnya dengan penggunaan kata tahassasu yang kadang digunakan untuk mencari dan menggali informasi yang baik. Sebagaimana firman Allah dalam QS Yusuf ayat 87

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ

Terjemah:

“(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…

Dalam riwayatpun banyak disinggung oleh Nabi saw agar menjauhi perbuatan tajassus, misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya nomor 6064 dan Imam Muslim nomor 2563

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

Artinya:

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan buruk sangka, sebab hal tersebut adalah sedusta-dustanya ucapan. Dan janganlah kalian saling mencari-cari kejelekan orang lain, memata-matai, mendengki, membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang memiliki rasa persaudaraan.”

Seorang ulama ternama yaitu Imam Abu Hatim Ibn Hibban al-Busthi pernah berkata: bahwa “orang yang berakal, wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan cara menghidari perbuatan tajassus, kemudian Ia harus sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri serta melupakan kejelekan yang ada pada orang lain. Dengan begitu hati akan menjadi tentram dan damai. Setiap kali Ia melihat kejelakan orang lain, Ia mengembalikan kepada dirinya yang juga memiliki kejelekan (aib). Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekan diri sendiri, maka hatinya akan menjadi buta, tubuhnya akan menjadi letih, serta akan sangat sulit baginya untuk meninggalkan kebiasaan buruknya.”

والله أعلم بالصواب

 

 

Ternate, 21 Februari 2021

 

 

Sabtu, 13 Februari 2021

Valentine’s Day: Kisah Kasih Sayang Yang Tak Dirindukan

 

Valentine’s Day: Kisah Kasih Sayang Yang Tak Dirindukan

Oleh :

Muhammad Irfan Hasanuddin



 

Istilah valentine’s day tentu tidak asing lagi ditelinga, utamanya pada kaum milenial. Valentine’s day  atau  biasa dikaitkan dengan istilah hari kasih sayang yang biasanya dirayakan pada setiap 14 februari. Bentuk perayaannya pun beragam. Mulai dari saling tukar menukar kartu yang diberi ucapan happy valentine atau diberi simbol hati, hingga memberikan hadiah berupa makanan (cokelat) atau bunga mawar kepada orang yang disayangi.

Di Amerika maupun di Eropa, tradisi bertukar kartu mulai populer pada tahun 1847 dimana kartu ucapan tersebut dicetak secara massal oleh Esther A. Howland (1828-1904) ahli percetakan asal Inggris. Tradisi ini pun terus berkembang hingga masuk ke wilayah asia. Namun tradisi yang berbeda dilakukan oleh orang Jepang, dimana para wanita memberikan cokelat kepada pria yang ia senangi. Mereka menamai tradisi tersebut dengan istilah giri choko. Menurut masyarakat setempat, hal tersebut sudah menjadi kewajiban bagi para wanita di Jepang. Bahkan mereka rela mengeluarkan dana yang besar demi memberikan hadiah kepada teman lelakinya. Hal tersebut sesuai dengan makna giri yaitu kewajiban, sedangkan choco bermakna coklat.

Bagimanapun populernya perayaan tersebut, ternyata ada juga yang menolak bahkan sampai mengharamkannya. Sebab menurut mereka, kegiatan tersebut bukan bahagian dari ajaran Islam. Misalnya saja di Malaysia pada tahun 2011, pihak berwajib agama Malaysia menangkap lebih dari 100 pasangan muslim yang sedang merayakan hari kasih sayang tersebut. Bukan hanya Malaysia, para tokoh agama di Arab Saudi pun ikut mengharamkan segala benda-benda atau barang yang terkait dengan perayaan valentine.

Dari beberapa referensi yang penulis dapatkan, ditemukan sebuah sumber bahwa penamaan valentine diambil dari salah satu nama santo atau orang yang dianggap suci dari kalangan kristen yang memiliki kisah cinta yang tragis. kisah tersebut terjadi pada masa kekaisaran Romawi tepatnya abad ke 2 masehi. Dengan banyaknya versi kisah yang beredar, membuat setiap orang berbeda dalam memberikan wawasan tentang hal tersebut.

Olehnya itu sebahagian orang enggan melakukan perayaan valentine, sebab hal tersebut hanyalah kisah yang tidak begitu penting untuk diperingati, bahkan sebahagian yang lainnya menganggap perayaan tersebut sebagai virus yang dapat membahayakan generasi muda. Hal ini sejalan dengan fatwa majelis Ulama (MUI) nomor 3 tahun 2017, dimana umat Islam diberi peringatan agar tidak merayakan valentine, sebab hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan tidak sedikit dari penganutnya yang melakukan hubungan suami istri diluar nikah. Disisi lain hal tersebut bahagian dari tasyabbuh atau meniru perilaku kaum tertentu.

Dalam ajaran Islam, istilah kasih sayang tidak hanya terbatas pada 14 februari saja, bahkan dianjurkan untuk saling mengasihi setiap saat tanpa adanya batasan waktu tertentu, bukan hanya kepada sesama manusia, termasuk  kepada alam maupun  hewan. Salah satu ayat yang dijadikan dasar untuk berlaku kasih sayang kepada sesama adalah firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 159

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Terjemah:

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”.

 Ayat ini berkenan dengan peristiwa pelanggaran kaum muslimin pada perang Uhud yang mengakibatkan kalahnya pasukan Islam dalam melawan kaum kafir Quraisy. Kekalahan yang dialami oleh umat Islam tersebut, bukan disebabkan karena tidak adanya strategi atau pasukan yang terlatih, akan tetapi ada hal lain yang dilanggar oleh kaum muslimin pada saat itu hingga akhirnya menimbulkan kemarahan oleh sebahagian umat Islam lainnya.

 Disebutkan dalam tafsir al-Misbah, bahwa ada banyak alasan mengapa manusia emosi bahkan pantas marah ketika menyaksikan perang tersebut. Namun lebih banyak pula bukti-bukti bahwa Nabi saw memiliki kelemah lembutan dalam menghadapi ummatnya. Hal tersebut tergambar ketika Nabi melakukan musyawarah kepada para sahabatnya, walaupun keputusan tersebut kurang berkenan dihati Nabi saw. Beliau tidak sedikitpun memaki apalagi mempersalahkan para pemanah yang telah meninggalkan markasnya.

Di dalam peristiwa tersebut, Nabi saw ingin memperlihatkan kepada ummatnya bahwa kasih sayang dari Allah amatlah besar. Sebagaimana penggunaan kata rahmah yang berbentuk infinitif (nakirah) pada ayat di atas, memiliki makna yang tidak terbatas. Olehnya itu beberapa poin penting yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan dari ayat tersebut antara lain:

  1.   Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, maka berilah maaf dan berlapang dadalah serta belajar ikhlas untuk menerimanya, walaupun kita pantas marah pada hal tersebut.
  2. Rasulullah saw sebagai suri teladan yang baik telah memberikan contoh yang sangat berharga, bukan hanya berlaku lemah lembut kepada umat Islam, termasuk musuh Islampun Ia  masih menaruh rasa simpati.
  3. Meskipun berpredikat sebagai Nabi dan Rasul, beliau tetap melakukan musyawarah dengan orang lain dan bahkan menghargai setiap keputusan yang ada tanpa menyalahkan pendapat yang lainnya.
  4. Saling berkasih sayang antar sesama sudah menjadi kewajiban pada setiap insan manusia. Bukan hanya itu, alam hingga hewanpun wajib berlaku kasih sayang kepadanya.

Dari ayat ini, kita dapat belajar bahwa berlaku kasih sayang dalam ajaran Islam tidak hanya digambarkan pada momen-momen tertentu, seperti halnya perayaan valentine. Memberi ucapan selamat hingga memberi hadiah memang sangat dianjurkan, namun bukan hanya pada perayaan itu saja, melainkan setiap saat/ waktu kita wajib melakukannya. Saling berbagi antar sesama adalah bahagian dari menjalin ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), wathaniyah (sebangsa/ setanah air), maupun makhlukiyah (sesama makhluk lainnya).

Mengenai perayaan valentine biarlah menjadi sebuah tradisi yang memiliki keunikan sendiri, bukan sesuatu yang harus diikuti. Sebab berlaku kasih sayang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, tidak terikat ruang dan waktu. Dan yang lebih penting lagi bukan bagaimana cara kita merayakannya, akan tetapi lebih kepada bagaimana cara kita mengekspresikannya, apakah sudah sesuai dengan syariat atau hanya dapat membuat celaka dunia akhirat.

والله أعلم بالصواب

 

Ternate, 14 Februari 2021

Jumat, 12 Februari 2021

4 Musuh Hebat Yang Menghantui Setiap Hari

 



4 Musuh Hebat Yang Menghantui Setiap Hari

Oleh :

Muhammad Irfan Hasanuddin

 

 

Jum’at malam tak sengaja saya membuka sebuah buku sederhana yang membahas sebuah do’a yang diajarkan oleh Nabi saw kepada salah seorang pemuda dari kalangan anshar. Do’a tersebut berbunyi:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Artinya:

            "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemurungan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan serta kemalasan, dan  aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan serta kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang serta tekanan dari orang lain ."

Dalam do’a tersebut, setidaknya ada empat hal yang menjadi permohonan utama yaitu: memohon agar terhindar dari kebingungan/ kesedihan, kelemahan/ kemalasan, rasa takut dan pelit, serta berhutang dan tertekan (terjajah) oleh orang lain.

Secara tidak langsung, ternyata keempat hal tersebut telah menjelma menjadi musuh yang merebut kebahagiaan kita setiap hari. (Hamm wa hazn) adalah kemurungan dan kesedihan , dalam artian sedih karena memikirkan perkara-perkara yang telah terjadi, bahkan menyesalinya dengan rasa yang berlebihan, hingga akhirnya iapun larut dalam kesedihan.

Dalam kesedihan tersebut, ia terjebak dalam rasa lemah serta malas (ajz wal kasal),  bahkan perasaan tersebut bisa saja lebih mendominasi dalam diri, serta sulit menghadapi tantangan hidup yang datang silih berganti, ditambah lagi dengan pekerjaan yang tak kunjung terselesaikan, hanya terus menumpuk dan menumpuk memenuhi alam pikiran dan akhirnya merasa sangat mustahil untuk diselesaikan.

Dari dua point sebelumnya, ternyata dapat mengantarkan kita kepada rasa takut dan pelit (jubn wal bukhl). Mental baja yang sebelumnya mendiami dalam diri, seketika berubah drastis menjadi rasa takut, takut menghadapi kenyataan bahkan hari esok. Akhirnya melahirkan sikap eksklusif, dan cenderung menghindar ketika berinteraksi dengan orang lain, bahkan tidak mau berbagi apapun yang ia miliki. Tidak sampai disitu, ternyata point berikutnya akan menjadikan kita manusia yang senantiasa berhutang dan memiliki mental terjajah (ghalabah addain wa qahr rijal). Dan akhirnya kita pun akan kehilangan kebebasan hidup, bahkan nyaris hidup kita tergadai di tangan orang lain.

Jangan biarkan hal-hal tersebut menguasai hidup kita. Usahakanlah disetiap kita terbangun pada pagi hari hingga tertidur kembali di malam hari, bersiap siaga untuk menghadapi musuh tersebut. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang dapat kita lakukan di samping membaca do’a  tersebut, antara lain:

1.      Berusaha keras untuk mengusir rasa takut dan murung dengan cara membesarkan rasa syukur dan ridha dalam diri. Bersyukurlah dengan apa yang telah kita rasa, punya rumah, keluarga, kendaraan, pekerjaan, bahkan bisa bangun kembali dari tidur itupun termasuk hal yang patut kita syukuri. Dan jangan lupa untuk ridha atas apa yang telah terjadi.

2.      Mengusir rasa lemah dan malas dengan mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Bukan memikirkan apa yang harus dikerjakan. Mulailah dari hal yang terkecil step by step. Belajarlah untuk menikmati setiap proses yang dijalani, adapun hasilnya, anggaplah hal tersebut sebagai bonus. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang ahli hikmah bahwa sukses itu sederhana, yaitu ketika kita akan tidur, dan melihat pekerjaan kita seharian telah terselesaikan.

3.      Lawan rasa takut dengan berani menghadapinya bukan menghindarinya. Seorang pemberani bukanlah seorang yang tak punya rasa takut, akan tetapi dikatakan seorang pemberani itu jika dapat menaklukkan rasa takutnya. Ada yang mengatakan bahwa khawatir itu terbuat dari 90% imajinasi yang kita dramatisasi, dan 10% nya lagi adalah fakta yang tidak jelas kebenarannya. Dan usirlah sifat bakhil dengan banyak bersedekah. Berusahalah untuk melatihnya dengan mengedepankan rasa gembira saat ada orang yang meminta bantuan, serta anggaplah hal tersebut sebagai sarana yang dikirim oleh Tuhan untuk melatih sifat kedermawanan kita.    

4.      Nasehat yang terakhir adalah hindari berutang dan menjadi budak yang menggantungkan nasib pada orang lain. jadilah manusia yang bebas, dalam artian bebas dari keinginan yang melebihi kebutuhan. Hiduplah dengan sederhana apa adanya tanpa harus membebani pikiran dengan istilah “ada apanya”.

 

Ternate, 13 Februari 2021

 


Senin, 28 Desember 2020

Yang Hilang Dari Kita (4) Memudarnya sikap al-Hilm

Yang Hilang Dari Kita (4) Memudarnya sikap al-Hilm 


اللهم أغنني بالعلم وزيني بالحلم وأكرمني بالتقوى وجملني بالعافية

“allahumma agnini bil ‘ilmi wazayyini bil hilmi wa akrimni bit taqwa wajammilni bil ‘afiyah”

Artinya:

“Ya Allah anugerahilah aku dengan ilmu, dan hiasilah aku dengan sifat al-hilm, dan muliakanlah aku dengan ketaqwaan, serta percantiklah diriku dengan kesehatan”

Do’a ini sangat populer dikalangan pesantren. Meskipun beberapa ulama menganggap do’a ini bersumber dari hadis dha’if, namun ada point tersendiri dari do’a tersebut yaitu sebuah permohonan agar dianugerahi sifat “al-Hilm”.

Term al-Hilm terkadang diartikan sebagai sifat yang lemah lembut, namun ahli bahasa mengemukakan makna lain yang dianggap lebih tepat yaitu kebijaksanaan. Dengan kata lain al-hilm adalah sikap tenang, tidak tergesa-gesa, dapat mengendalikan, serta penuh pertimbangan dalam memutuskan sebuah perkara.

Al-Hilm atau response ability inilah yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak. Misalnya ketika seorang anak lapar atau sakit, maka sang anak akan langsung menangis tanpa banyak berfikir, berbeda halnya dengan orang dewasa yang terlebih dahulu merespon setiap situasi yang ia rasakan. Jika al-‘ilm (ilmu) dapat diperoleh dengan belajar atau menempuh pendidikan, maka al-hilm dapat diraih melalui proses latihan yang sungguh-sungguh melalui pengalaman hidup, serta mampu mengambil hikmah dari setiap problematika kehidupan yang dihadapinya.

Term al-hilm juga memiliki kesamaan makna dari term al-anah ( الأناة ), dan al-rifq (الرفق ). Al-hilm menuntun kepada pemiliknya untuk memiliki penguasaan diri ketika dalam keadaan marah atau tidak terburu-buru merespon dalam memberikan balasan. Adapun al-anah, memiliki makna berhati-hati dalam menghadapi permasalahan serta tidak tergesa-gesa dalam artian seseorang tidak melihat sebuah permasalahan dari segi lahiriahnya saja, melainkan menelitinya terlebih dahulu yang dalam bahasa agama disebut dengan istilah bertabayyun.

Sedangkan al-Rifq memiliki makna lemah lembut, dimana ketika berinteraksi kepada sesama manusia, ia memperlakukannya dengan penuh kelembutan, bahkan ketika orang tersebut memiliki hak untuk mengeksekusi seseorang atau memberikan hukuman, ia melakukannya dengan lemah lembut.

Mengenai sifat al-hilm, Rasulullah saw pernah memberikan contoh ketika seorang yahudi mendatanginya untuk menagih utang. Sikapnya yang kasar diiringi dengan kata-kata yang menyakitkan pun terlontar dari mulut sang yahudi. Hal tersebut membuat Umar yang ketika itu berada disamping Rasulullah menjadi geram dan naik pitam hingga ia pun menarik kerah bajunya.

Melihat reaksi Umar tersebut, Rasulullah berusaha menenangkannya serta menasehati agar tetap bersikap lemah lembut kepada sang Yahudi tersebut. Pada riwayat yang lain diterangkan bahwa konon si Yahudi tersebut duduk berjam-jam menunggu sambil mengintimidasi, namun reaksi Rasulullah tetap berlemah lembut kepadanya.

Dengan sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah tersebut, akhirnya sang Yahudi merasa tersentuh hatinya dan menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam. Sang Yahudi pun mengaku bahwa maksud kedatangannya tersebut bukan sekedar menagih utang, melainkan ingin menguji kenabian Muhammad. Sebab ia mendapatkan keterangan di dalam kitab sucinya bahwa Muhammad punya tanda-tanda kenabian, dan ia telah melihat keseluruhannya kecuali satu yaitu al-hilm.    

Kisah di atas adalah salah satu teladan yang diajarkan oleh nabi untuk merespon setiap persoalan. Dengan sikap ­al-hilm tersebut, Rasulullah saw berhasil mengubah tabiat orang Quraisy dari tradisi padang pasir yang terkenal dengan sifat kerasnya menjadi penuh kasih sayang, dari sikap reaktif serta suka perang menjadi lebih bijak dan mengedepankan musyawarah.

Namun umat Islam di Indonesia yang secara budaya telah dikenal dengan keramahannya, kelihatannya sudah mulai kehilangan ruh al-hilmnya. Hal ini bisa kita saksikan statement maupun status diberbagai media sosial seperti di facebook, twitter, instagram, hingga whatsapp yang cenderung mengarah kepada ujaran kebencian. Bukan hanya itu, berita penuh dengan fitnah bertebaran dimana-mana, serta menshare informasi dari sumber yang tidak jelas. Dan celakanya lagi, kadang dijadikan sebagai bahan referensi dalam memutuskan sebuah perkara, tanpa memikirkan dampaknya.

Olehnya itu Rasulullah mengajarkan do’a kepada kita agar senantiasa dianugerahi dengan ilmu, dihiasi dengan sifat al-hilm, dimuliakan dengan ketaqwaan, serta dipercantik/diperindah dengan kesehatan.

 

Wallahu ‘Alam Bish Shawab.

 

 

Ternate 29 Desember 2020


Senin, 16 November 2020

Hari Ayah Nasional (antara peringatan dan penghargaan)

 Hari Ayah Nasional (antara peringatan dan penghargaan)

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin



Selamat hari Ayah, ........! statemen ini spontan viral di media sosial untuk memperingati hari Ayah nasional yang jatuh pada setiap tanggal 12 November. Entah dari mana awal mulanya, siapa yang memprakarsai, dan tujuannya apa hingga hari ini masih menimbulkan segudang pertanyaan.  Ada yang mengatakan bahwa peringatan hari Ayah nasional pertama kali di deklarasikan oleh anggota tim paguyuban satu hati, lintas agama dan budaya yang populer dengan nama PPIP (Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi).

Pada peringatan hari Ibu di Solo, tepatnya tahun 2014, PPIP mengadakan sayembara yang diikuti oleh kalangan pelajar mulai dari tingkat SD, hingga tingkat Mahasiswa. Adapun  tema yang diangkat yaitu menulis surat untuk Ibu. Acaranya sangat meriah dan mendapatkan sambutan yang hangat dari para peserta yang hadir pada saat itu. Dari hasil sayembara tersebut, dipilih sekitar 70 surat yang terbaik kemudian dibukukan. Setelah kegiatan tersebut berakhir, panitia mendapatkan masukan dari beberapa peserta yang menanyakan kapan sayembara menulis surat untuk Ayah diadakan ?. anggota panitia pada saat itu belum bisa memberikan jawaban karena belum ada hari yang ditetapkan oleh pemerintah khususnya untuk memperingati hari Ayah. Namun setelah melalui kajian yang panjang, akhirnya mereka kembali mendeklarasikan hari Ayah nasional yang jatuh pada setiap tanggal 12 November.  

Dihari yang sama juga dilaksanakan deklarasi hari Ayah nasional di Maumere, Flores Nusa Tenggara Timur. Dan diluncurkan sebuah buku yang berjudul “Kenangan untuk Ayah”  berisikan 100 surat terbaik dari seluruh Indonesia, tentunya telah melalui seleksi yang ketat. Setelah deklarasi, mereka mengirimkan buku tersebut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta keempat Bupati yaitu daerah sabang, merauke, sangir Talaud dan Pulau Rote. Kemudian selanjutnya setiap tahun diperingatilah hari Ayah nasional. Seperti halnya negara-negara lain yang telah lebih dulu memperingatinya. Bahkan tercatat lebih dari 75 negara yang telah memperingati father’s Day atau hari Ayah yang jatuh pada pekan ketiga di bulan juni atau tepatnya setiap tanggal 21 Juni.

Peran ayah dalam proses pengasuhan anak secara langsung memang hanya sekitar 27,9%, akan tetapi perannya cukup sentral dalam keluarga. Karena dia adalah ujung tombak keberlangsungan hidup keluarga. Dalam al-Qur’an sendiri perintah menghormati orangtua tidak pernah terpisahkan antara Ibu dan Ayah. Seperti Halnya yang tergambar dari penggunaan  kata الوالد ين  pada QS al-Isra’ ayat 23 :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemah:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

 

Pada ayat di atas, berbuat baik kepada orangtua menggunakan huruf sambung Bi dan bukan huruf ila. Menurut pakar bahasa arab, kata sambung Bi pada ayat di atas, mengandung makna al-Ilsha>q ( الإلصاق ) yaitu sesuatu yang menunjukkan hubungan yang erat serta dekat antara dua hal atau lebih. Hal yang berbeda ketika digunakan huruf ila  yang mengandung makna jarak, misalnya kita menuju ke Amerika dari Indonesia. Dengan demikian, dari makna bahasa saja kita sudah mendapatkan pemahaman bahwa Allah tidak menghendaki adanya jarak meskipun sedikit. Utamanya hal-hal yang berkaitan dengan berbakti kepada kedua orangtua.

Antara anak dan orangtua harus memiliki hubungan yag erat, dekat, bahkan lekat baik dari segi fisik, emosional, maupun spiritual. Olehnya itu dengan adanya peringatan hari Ibu maupun hari Ayah nasional,  diharapkan bagi seorang anak dapat meningkatkan kesadaran diri untuk menghormati serta menghargai orangtuanya bukan hanya sekedar perayaan simbolis semata.

 

Wallahu ‘alam bish shawa>b

 

 

Ternate 17 November 2020

Senin, 02 November 2020

Menghadirkan Dzauq Dalam Setiap Aktivitas Literasi

 Menghadirkan Dzauq Dalam Setiap Aktivitas Literasi

Oleh : Muhammad Irfan Hasanuddin

 


Terinspirasi dari materi yang telah dibawakan oleh Dr Muhsin Kalida (Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta) pada acara Jagongan Literasi Seri 2 yang kali ini mengangkat tema PSYCHOWRITING. Ada banyak hal yang beliau sampaikan dalam materinya tersebut, antara lain, tentang pentingnya menumbuhkan rasa ketika menulis. Tentu hal tersebut terbilang sulit. Olehnya itu dibutuhkan sebuah dorongan dari dalam diri untuk menumbuhkannya. Salah satu solusi yang beliau berikan adalah menjadikan kegiatan menulis sebagai kebutuhan. Ketika mampu memasukkan sugesti  kalimat tersebut dalam diri kita, maka dengan sendirinya akan memperoleh sebuah dorongan untuk memulai aktivitas menulis.

Menganggap kegiatan menulis sebagai kebutuhan sebenarnya merupakan tingkatan yang paling sulit bagi seorang pemula. Diibaratkan dengan shalat, maka kita akan mendapati tingkatan orang-orang yang melakukannya. Antara lain ada menganggap bahwa shalat itu adalah sebuah kewajiban, keterpaksaan maupun kebutuhan.

Jika mereka menganggap shalat itu  sebagai kewajiban, maka ketika melakukannya, mereka hanya punya motif  ingin sekedar terbebas dari siksa neraka sebab mereka memahami sesuai dengan teks atau dalil-dalil yang mengarah kepada ancaman terhadap orang-orang yang tidak mau melakukan sholat. Artinya merasa berdosa ketika tidak melaksanakannya.

Demikian halnya dengan orang yang menganggap bahwa shalat itu sebagai keterpaksaan. Bisa jadi ketika melakukannya, dia tidak akan konsisten bahkan tidak merasa berdosa ketika meninggalkan shalat. Sebab tipe orang seprti ini, hanya mau melakukannya ketika ada tekanan atau dalam suasana keterpaksaan, baik itu perintah orang tua, guru, dan yang lainnya.

Namun hal yang berbeda ditunjukkan oleh orang-orang yang menjadikan shalat sebagai kebutuhan. Dengan penuh kesadaran diri tanpa ada tekanan dan beban apapun, Ia akan melaksanakan shalat dengan penuh keikhlasan. Dan bahkan ketika tiba waktu shalat, maka secara otomatis hatinya akan tergerak untuk segera melaksanakannya.

Muhsin Kalida menambahkan bahwa Imam al-Ghazali beserta karya monumentalnya Ihya ‘Ulm al-Din telah banyak memberikan inspirasi tentang arti pentingnya sebuah karya literasi. Namun lagi-lagi menumbuhkan mood untuk menulis tidak semudah yang dibayangkan. Jika dalam dunia tasawwuf terdapat pembahasan tentang dzauq (rasa), demikian pula dalam persoalan literasi baik itu kegiatan membaca maupun menulis.

Menurut al-Ghazali, istilah dzauq merupakan sebuah kegiatan untuk menghadirkan hati (hudhur al-Qalb) ketika berzikir kepada Allah secara kontinyu (istiqamah). Dzauq yang dirasakan oleh seorang salik (orang yang menjalani disiplin spritual dalam menempuh jalan sufisme Islam), adalah bahagian awal dari kondisi spritual pada proses pengungkapan diri kepada Allah (tajalli).

Kondisi spritual seperti ini sangat mirip dengan kondisi yang dirasakan oleh seorang penulis ketika ingin memulai karya tulisnya. Dalam memulai aktivitas menulis hal pertama yang perlu menjadi perhatian adalah bagimana kita bisa menghadirkan rasa butuh terhadap kegiatan menulis layaknya sebuah perjalanan spiritual tentu butuh pembiasaan hingga keistiqamahan dalam mengubah sebuah kebiasaan atau melawan rasa malas. Setelah berhasil menghadirkan ruang (rasa butuh) untuk menulis, maka secara otomatis akan membuka peluang atau kesempatan dalam merangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat.

Dr Ngainun Naim (ketua  LP2M  IAIN tulungagung) yang bertindak sebagai pendamping narasumber, ikut memberikan nasehat bahwa ketika ingin menjadi seorang penulis, maka jangan tunggu mood baru mau menulis, akan tetapi mood itu seharusnya diciptakan sendiri. Merangkai kalimat sebanyak 5 paragraf setiap hari juga termasuk sarana untuk melatih suasana hati dalam proses menulis. Dan bahkan merasa berdosa ketika tidak menulis bisa dijadikan sebagai sugesti untuk menambah semangat dalam berliterasi. Disamping itu, membangun relasi kepada orang-orang yang kita yakini mampu memberikan dampak positif untuk membangun budaya literasi, juga menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan dzauq literasi.

Olehnya itu, dzauq bukan hanya dirasakan oleh para salik yang menempuh jalan spritual saja, akan tetapi  orang-orang yang bergelut di dunia literasipun dapat merasakan hal yang sama ketika menjalani aktivitasnya.

 

Wallahu ‘alam bis shawab

Ternate 3 November 2020

asasas

 sasasasas