Senin, 06 Juli 2020

Keajaiban Sabar dan Shalat (bagian 1)

Keajaiban Sabar dan Shalat (bagian 1)

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin


Mereka yang Didoakan Malaikat | Republika Online

Disebuah sudut kota metropolitan, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang sedang diberikan ujian serta cobaan dari Allah swt. Antara lain ujian yang menimpanya adalah akan disitanya rumah yang selama ini mereka huni. Hal ini dikarenakan sang suami mempunyai hutang di bank sebanyak 50 juta yang sudah jatuh tempo, dan sebagai jaminannya adalah rumah mereka. Ketidak sanggupannya membayar hutang menjadikan pihak bank akan menyita rumah beserta isinya. Ia pun pasrah dengan keadaan yang ada dan tidak bisa berbuat banyak. berbagai cara telah ia lakukan untuk menutupi hutangnya namun hasilnya tetap nihil.

Tidak berselang lama sang istri tercinta pun datang dengan membawa sepucuk surat buat sang suami. Dengan penuh amarah yang berapi-api, sang istri mengatakan bahwa ia akan menggugat cerai sang  suami, dikarenakan sudah 6 bulan lamanya tidak dinafkahi. Dengan membawa surat dari pengadilan agama, ia meminta suamianya agar hadir dua hari kemudian di pengadilan untuk sidang gugatan perceraian.

Dengan dua kesusahan yang ia dapatkan tentu membuat hatinya semakin galau, dan ternyata ia pun berputus asa. Ia berniat mengakhiri hidupnya dengan memilih untuk gantung diri. Sebelum ketiang gantungan, ia mendengarkan suara isak tangis dari salah satu sudut rumahnya. Ternyata suara tangisan itu adalah suara anaknya. Sang ayah pun berkata kepada anaknya: “mengapa engkau menangis wahai anakku” ?, anaknya menjawab: “mulai besok saya tidak bisa lagi datang ke sekolah, karena sudah 8 bulan iuran sekolah menunggak”.

Mendengar tangisan anaknya, ia pun makin terpukul dan ingin segera mengakhiri hidupnya. Namun sebelum melakukan bunuh diri,  terlintas dalam pikirannya untuk shalat sunnah terlebih dahulu, karena ketika telah meninggal dunia nanti, maka belum tentu ada yang mau menshalatinya. Setelah melakukan shalat ia pun membaca beberapa ayat al-Qur’an dan tanpa terasa waktu subuh  telah masuk. Ia pun kembali melaksanakan shalat subuh kemudian melanjutkannya dengan membaca beberapa zikir.

Tanpa terasa Jam telah menunjukkan pukul 7 pagi dan ia pun kembali ke tiang gantungan untuk melanjutkan atas apa yang telah ia rencanakan. Namun terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Ia sempat berfikir bahwa yang datang ini adalah petugas bank, alhasil setelah membuka pintu ternyata yang datang bukanlah petugas bank melainkan sahabatnya yang telah lama berpisah. 

Ringkas cerita, ternyata sahabatnya ingin menawarkan proyek kerja sama dalam bidang pengoperasian alat-alat berat. Awalnya ia menolak karena merasa tidak punya keahlian, ditambah lagi dengan beban pikiran yang tadi malam ingin mengakhiri hidupnya namun belum terealisasi. Akan tetapi mendengar nilai kontraknya yang mencapai 150 juta, tanpa berfikir panjang ia pun menerima tawaran dari sahabatnya tersebut.

Akhirnya persoalan hidup yang ia hadapi dapat teratasi. Rumahnya pun tidak jadi disita oleh bank karena hutangnya telah dibayar lunas. Dan terlihat dari  kejauhan istrinya menggenggam selembar kertas yang berisi tanda persetujuan cerai menghampiri sang suami. Sebelum istrinya berbicara, ia memeluknya dengan erat, sambil memberikan sisa uang yang ia dapatkan dari hasil kontrak pekerjannya. Nilainya pun sangat fantantis karena mencapai  jutaan rupiah. Dengan nada penyesalan ia pun meminta maaf karena selama ini tidak pernah menafkahi. Dan ia tak lupa berpesan kepada sang istri agar melunasi tunggakan iuran sekolah anaknya.

Dari kisah tersebut kita bisa belajar bahwa salah satu penawar kesusahan adalah shalat serta bersabar atas takdir Allah. Hal ini senada dengan firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 45

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Terjemah:

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

Sabar dan shalat adalah cara yang Allah tawarkan kepada kita untuk meraih pertolongannya. Tentu dalam menghadapi musibah maupun kesusahan tidaklah mudah, karena butuh kesabaran yang ekstra. Mengeluh atas takdir Allah adalah sesuatu yang bersifat manusiawi. Namun kita juga harus mawas diri serta lebih ikhlas ketika menjalani problema kehidupan agar terhindari dari sikap berlebihan dalam meratapi takdir, yang terkesan kurang menerima keputusan Allah dan bahkan cenderung menolaknya.

Nabi pun mengajarkan kepada kita bahwa ketika seorang hamba ditimpa kesusahan, maka hendaklah ia melakukan shalat. Seperti halnya yang dilakukan oleh lelaki tersebut. Dengan shalat yang Ia kerjakan, serta kesabaran dalam mengahadapi ujian, akhirnya Allah memberikan pertolongan-Nya dan segala kesusahannya pun dapat teratasi.

Kisah ini hanyalah salah satu contoh problema kehidupan yang ada disekitar kita, dan tidak menutup kemungkinan kita juga akan dihadapkan dengan berbagai macam persoalan hidup. Olehnya itu tetaplah bersabar dalam menghadapi ujian maupun cobaan dari Allah serta dirikanlah shalat sebagai pelipur lara. Yakinlah bahwa dibalik kesusahan akan ada kemudahan. Wallahu ‘alam bish shawab.

 

 

Ternate, 7 Juli 2020

 


Sabtu, 04 Juli 2020

Andaikan Aku Bisa Kembali

Andaikan Aku Bisa Kembali

Penyair Senja - Posts | Facebook

Andaikan Aku bisa kembali ke masa lalu, maka akan ku ukir lagi sejuta prestasi agar bisa menikmati masa sekarangku yang lebih baik lagi. Statement ini dilontarkan oleh salah seorang pemuda yang sedang meratapi nasibnya. Ia hidup di sebuah desa terpencil dengan serba kekurangan. Dikehidupannya yang sekarang ini, Ia sangat menyesal dan terpukul dikarenakan tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ekonomi keluarganya. Ia mempunyai sebuah impian untuk ke kota dan bekerja pada sebuah perusahaan. Namun apalah daya, jangankan skill (keterampilan), ijazahpun tiada. Dengan modal pendidikan sekolah dasar yang tidak kelar tentu tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya berharap bahwa suatu saat nanti akan datang secerca cahaya harapan agar impian serta cita-citanya dapat terwujud.

Dalam menjalani kehidupan tentu kita mempunyai persoalan serta keluhan yang berbeda, mulai dari profesi yang paling bawah hingga yang tergolong kelas atas. Misalnya dosen yang sebahagian orang menganggapnya sebagai profesi yang punya gensi. Tentu yang kita pahami bahwa tidak mudah meraih sebutan sebagai dosen. Hal ini dikarenakan beban kinerja yang harus terpenuhi, mulai dari pengajaran, penelitian hingga pengabdian kepada masyarakat.

Dosen yang kurang memiliki bekal literasi tentu akan merasa kesulitan utamanya dalam penyusunan karya ilmiah. Bahkan tidak sedikit dosen yang mengutarakan penyesalannya dikarenakan kurang baca buku pada saat menjadi siswa ataupun mahasiswa, minat belajar yang sangat minim, kurang mengasah diri, tidak memiliki skill (keterampilan), tidak mengusai bahasa asing, buta akan organisasi dan masih banyak lagi unek-unek yang menghiasi benaknya.

Menyesali keadaan sekarang boleh jadi sesuatu yang manusiawi, akan tetapi kita tidak boleh terlalu larut dalam penyesalan tersebut, karena akan memberikan kesan tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Bukankah Nabi Adam juga pernah menyesali perbuatannya ketika memakan buah khuldi?, hingga Nabi Nuh yang pernah mendo’akan ummatnya binasa?, akan tetapi setelah menyesali perbuatannya, dengan segera mereka berbenah diri serta menata kembali kehidupannya ke arah  yang jauh lebih baik lagi.

Demikian halnya di dalam al-Qur’an, Allah swt senantiasa mengingatkan melalui ujian maupun cobaan yang Ia berikan agar manusia kembali ke jalan-Nya (yang benar). Allah swt berfirman dalam QS ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Terjemah:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

secara sepintas jika di lihat terjemahan dari ayat ini, maka kita akan mendapati bahwa Allah memberikan balasan atas perbutan manusia agar mereka bisa belajar dari perbuatannya tersebut, dalam artian dapat menata kehidupannya ke arah yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Olehnya itu tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau berbenah diri selagi masih ada kesempatan, termasuk dalam hal mengejar sebuah impian maupun cita-cita.

CrebyCa: Salah Satu Cita-Cita Saya Adalah Menjadi Penulis

Bagi seorang dosen, memiliki karya ilmiah adalah sebuah impian, memulai secara bertahap, melatih diri hingga mengasah keterampilan tentu akan terasa berat. Kuncinya adalah sabar ikuti proses, hindari mengeluh yang berlebih, dan mulailah sesuatu yang sederhana untuk merangkai sebuah kata menjadi sebuah kalimat, dan yakinlah bahwa Allah senantiasa memberikan jalan hingga saatnya tiba Allah mengatakan waktumu telah habis dan saatnya pulang!  

Jangan pernah berputus asa, sampaikanlah segala keluhan kepada Allah yang maha kuasa, terus bersabar dalam menata kehidupan, dan yakinkan diri bahwa cahaya kemenangan sebentar lagi akan diraih.

 

Muhammad Irfan Hasanuddin

Ternate, 5 Juli 2020


Senin, 29 Juni 2020

Do'a Malaikat Jibril (Bahagian 2)

Do'a Malaikat Jibril (Bahagian 2)

Menghormati Ortu

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

Setelah Nabi mengaminkan do’a Malaikat Jibril yang pertama, maka ia pun melanjutkan do’anya yang kedua. Malaikat Jibril mengatakan: “barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, kemudian belum sempat berbuat baik kepadanya atau salah satunya, lalu ia meninggal dunia maka masukkanlah ke dalam api neraka, dan Allah menjauhkannya (dari surga), kemudian Rasulullah pun mengucapkan amin”.

Do’a Malaikat Jibril yang kedua ini di perutuhkan kepada seorang anak yang tidak tahu berbakti kepada kedua orang tuanya. Padahal andai kata ada yang berhak kita sembah selain Allah maka tentu akan ditujukan kepada kedua orang tua. Allah SWT berfirman dalam QS al-Isra’: 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemah:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antaranya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

Ayat ini memberikan informasi kepada kita tentang kewajiban utama setelah menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Tentu yang dimaksud dalam konteks ayat ini adalah orang tua kandung sesuai dengan penggunaan term ٱلْوَٰلِدَيْنِ , baik itu ayah ٱلْوَٰلِد) ( maupun  ٱلْوَٰلِدَة (Ibu). Berbeda halnya dengan term  اَبٌ  (ayah) maupun term  اُمٌّ (Ibu) yang bermakna umum, artinya bisa jadi yang dimaksud adalah ayah atau ibu dari garis keilmuan bukan dari garis keturunan.

Kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua tergambar pada penggunaan term إِحْسَٰنًا (ihsanan), yang mana term ini digunakan untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada pihak lain dan kedua, adalah perbuatan baik. Berbeda dengan term حَسَنٌ  (hasanun) yang hanya berarti baik. Olehnya itu term tersebut memiliki makna lebih luas dari sekedar kata baik, memberi nikmat atau memberi nafkah. Demikian penjelasan Raghib al-Ashfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufradat al-Fadz al-Qur’an.

Ihsan yang dalam bahasa keseharian kita adalah bakti kepada orang tua, yang oleh agama memerintahkan untuk bersikap sopan kepada keduanya baik itu dari segi ucapan maupun perbuatan. Ketika al-Qur’an berbicara tentang  orang tua biasanya di pakai huruf penghubung Bi ( ب ) yang mengandung makna ( إلصاق ) atau kelekatan. Berbeda halnya ketika penggunaan kata  إلي)) yang mengandung makna jarak. Hal ini diharapakan kepada seorang anak agar mampu melekatkan hatinya kepada orang tua.

Salah satu ujian berat bagi seorang anak adalah ketika mendapati orang tuanya dalam keadaan usia lanjut, dimana ia dituntut untuk memberikan pelayanan yang penuh dengan kasih sayang serta mengindari kata-kata yang kasar atau yang dapat melukai perasaannya. Ada yang memahami bahwa term  أفٍ tidak hanya sebatas mengatakan “ah”, akan tetapi maknanya bisa lebih dari itu. Artinya segala sesuatu yang dapat membuat hati atau perasaan orang tua (ibu/bapak) kecewa, maka masuk dalam kategori أفٍ. Hal ini ditegaskan agar seorang anak mampu menjaga akhlak kepada kedua orang tuanya.

Do’a malaikat Jiibril yang kedua ini memberikan tuntunan kepada kita bahwa betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, dan tidak boleh mendurhakainya. Sebab jangankan masuk ke dalam surga, mencium baunya saja tidak akan mampu bagi anak yang durhaka kepada kedua orang tua demikian penjelasan Nabi dalam salah satu hadisnya.

Selanjutnya malaikat Jibril melanjutkan do’anya yang ketiga, ia mengatakan bahwa “barangsiapa yang mendengarkan namamu disebut wahai Rasulullah, lalu dia tidak bershalawat kepadamu,  ketika ia meninggal masukkanlah  ke dalam neraka”, maka Nabi pun mengucapkan amin.

Demikianlah do’a malaikat jibril yang diaminkan oleh Rasulullah saw. Tentunya do’a ini pasti diijabah, sebab yang berdo’a adalah makhluk yang tidak pernah ingkar, dan yang mengaminkan adalah manusia yang paling dekat dengan Allah swt. Wallahu ‘alam bish shawab.

 

Ternate, 30 Juni 2020

 


Sabtu, 27 Juni 2020

Jangan Pernah Memandang Remeh Seseorang

Mouse Guard: The Black Axe Review - That Shelf

Jangan Pernah Memandang Remeh Seseorang

Oleh: Muhaammad Irfan Hasanuddin

 

Suatu ketika ada sebuah  kapal yang sementara berlabuh, dan diatas kapal itu terdapat  4 ekor hewan yang ikut menemani sang nahkoda. Hewan tersebut  adalah ayam, gajah, harimau dan tikus. Suatu hari keempat hewan itu berkumpul dan menceritakan kehebatan masing-masing.

Ayampun berkata  "aku selalu memberi telur kepada nahkoda kita. Berkat aku, dia dapat makan yang enak lagi bergizi." Mendengar perkataan ayam tersebut, gajahpun tak mau kalah ia mengatakan "aku kuat, dan selalu membantu nahkoda kita untuk mengangkat barang-barang yang berat." Kemudian sang harimau menimbrung "Kalau aku terkenal sakti dan selalu memenangkan setiap pertempuran, aku selalu melindungi nahkoda kita dari serangan bajak laut dan orang-orang jahat".

Ketiga hewan tersebut telah mengungkapkan kelebihannya masing-masing, namun hanya tikus yang terdiam. Ketiga hewan tersebut memandanginya dan mengatakan: "tikus apa fungsimu di sini, hanya engkau yang tak mempunyai kelebihan, hahahaha". (terdengar suara ejekan kepada tikus tersebut).

Tidak berselang lama setelah itu, kapal tersebut menabrak sebongkah karang dan akhirnya mengalami kebocoran. Keempat hewan tersebut beserta nahkodanya pun panik. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan karena lokasi kebocoran berada di tempat yang tersembunyi  sehingga sangat sulit untuk menemukannya. Tikuspun berpikir sejenak kemudian berkata : "Teman-teman mungkin inilah saatnya aku dapat berguna bagi kalian." Lalu tikus itu mulai bergerak. Dengan tubuh mungil dan lonjongnya  dengan mudah ia masuk ke sela-sela kayu untuk menemukan sumber kebocoran tersebut kemudian memperbaiki kerusakannya. Akhirnya selamatlah seluruh penumpang yang ada di atas kapal tersebut dan kebocorannya pun dapat teratasi.

Sang Nahkodapun merasa senang dan ia berkata: "Untung ada kamu tikus, kalau tidak kita bisa celaka". Ketiga temannya pun tertunduk malu karena mereka telah mengejek serta memendang remeh tikus tersebut.

Demikianlah Tuhan telah memberikan kepada kita  berbagai kelebihan  masing masing. Hanya terkadang kita kurang menyadarinya, bahkan cenderung tidak memahami bakat yang kita miliki. Oleh sebab itu mestinya diyakini bahwa tidak ada yang Allah ciptakan di muka bumi ini dengan sia-sia. Sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran: 190-191

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Terjemah:                                        

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dari kisah ini kita bisa belajar bahwa jangan pernah memandang remeh makhluk Allah apalagi seorang manusia, karena segala sesuatu yang Ia ciptakan tentu mempunyai kelebihan masing-masing, dan janganlah mengejek serta saling merendahkan tetapi saling melengkapilah untuk hidup yang lebih baik.

 

 

Ternate, 28 Juni 2020


Mouse Guard: The Black Axe Review - That Shelf

Jumat, 26 Juni 2020

Kesuksesan Yang Tertunda

Kesuksesan Yang Tertunda

Jurgen Klopp: Jangan Bicara Soal Liverpool Juara Liga Champions ...

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Salah satu headline news media elektronik maupun cetak minggu ini adalah perayaan Liverpool sebagai juara EPL (English Premier League) atau liga utama Inggris. Kekalahan Manchester City dari Chelsea mengantarkan Liverpool menjadi juara EPL musim 2019/2020 setelah puasa gelar selama 30 tahun yang terakhir kali ia raih pada tahun 1990. Sungguh penantian yang luar biasa. Kerja keras, kolektifitas, serta dukungan baik itu dari sprorter, pelatih, official maupun kerabat keluarga tentu ikut andil dalam peraihan gelar tersebut.

Kesuksesan club Liverpool sebagai juara, menjadi inspirasi tersendiri bagi kita. Bahwa terkadang kesuksesan itu bisa berasal dari tangan orang lain. saya teringat salah satu pepatah leluhur yang mengatakan bahwa kesuksesan itu ditentukan oleh 4 tangan yaitu: garis Tangan (takdir), angkat Tangan (do’a dan usaha), tanda Tangan (perantara), dan jabat Tangan (pandai berterima kasih).

Garis tangan menjadi yang paling utama dalam hal kesuksesan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Allah swt telah menentukan rezki, ajal, kebahagiaan, termasuk kesuksesan seseorang. Menurut sebahagian ulama, bahwa takdir yang Allah telah tentukan bisa kita diubah dengan angkat tangan atau do’a dan usaha. Sebagaimana firman Allah dalam QS  Ar-Rad ayat 11

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Terjemah:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Ayat ini menjadi isyarat bahwa Allah tidak akan merubah keadaan seseorang (nasib) melainkan ia merubahnya sendiri. Olehnya itu peran ikhtiar dalam perjalanan hidup tentu menjadi modal utama seseorang dalam mencapai kehidupan yang lebih baik.

Setelah do’a dan usaha dilakukan, tahapan selanjutnya adalah tanda tangan. Hal ini dimaknai dengan adanya campur tangan orang lain. yang saya maksudkan disini bukanlah  istilah nepotisme, melainkan adanya campur tangan orang lain, entah itu dari keluarga, sahabat, rekan kerja termasuk orang-orang yang membenci kita. Bukankah chelsea salah satu rival abadi dari Liverpool?, tetapi ia merberikannya gelar juara dengan mengalahkan mancester city. Inilah yang saya maksudkan bahwa terkadang kesuksesan itu berasal dari tangan orang lain. di sisi lain agama mengajarkan kepada kita bahwa jika ingin memiliki rezki yang luas serta umur yang panjang, maka jalinlah tali silaturrahim. Sebagaimana hadis Nabi saw:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya:

"barang siapa yang ingin diluaskan rezkinya, dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturrahim." (HR Bukhari).

Ulama memberikan penjelasan mengenai hadis ini, bahwa menjalin silaturrahim dapat meluaskan rezki seseorang serta memanjangkan umur, artinya dapat memberikan kemudahan termasuk dalam hal pekerjaan. Dan orang-orang yang berada disekitar kita akan menjadi perantara Allah untuk memberikan kesuksesan.

Setelah meraih kesuksesan tentu kita diharapkan untuk tidak lupa akan daratan. Sebab terkadang kesuksesan dapat membutakan mata hati seseorang dan lupa berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantunya. Seorang anak misalnya, ketika ia sudah meraih kesuksesan, maka ia wajib berterima kasih kepada kedua orang tuanya. Dalam bahasa al-Qur’an dikenal dengan istilah ihsanan, yaitu berbuat yang lebih baik dari apa yang pernah orang tua lakukan. Hal tersebut tidak dimaknai dengan balas jasa, akan tetapi hanya sekedar berbuat baik atau berbakti kepadanya, sebab seorang anak tentu tidak akan mampu membalas jasa-jasa orang tuanya.  

Poin terakhir dari kesuksesan Liverpool adalah adanya kerja keras yang disandingkan dengan kesabaran dalam penantian. Tentu kesuksesan itu tidak diraih secara instan melainkan dengan berbagai tahapan. Olehnya itu teruslah berjuang, raihlah cita-cita setinggi mungkin jika terjatuh teruslah bangkit, jika gagal teruslah mencoba, karena kesempatan akan selalu ada bagi orang yang mau berusaha. Dan tentunya kesuksesan akan selalu menantikan para pemiliknya.

 

Ternate, 27 Juni 2020


Rabu, 24 Juni 2020

Semangat Kehidupan (Filosofi Palu dan Paku)


Semangat Kehidupan

(Filosofi Palu dan Paku)

Mukhtar 4mfat : Filosofi Palu Melihat Paku

oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Pagi hari yang cerah ditemani segelas kopi hangat membuat imajinasi semakin menari-nari. Sebuah inspirasi pun lahir dari sebuah sumber bunyi yang dihasilkan oleh hasil gesekan dua benda keras, yaitu antara sebuah paku dan palu. Mata pun tertuju pada seorang tukang kayu yang dengan kekuatan penuh terus mengayunkan palunya demi menancapkan paku dengan sempurna. Namun hal itu tidak berjalan dengan mulus. Beberapa buah paku pun bengkok dan tidak bisa tertancap dengan sempurna, sang tukang pun mengurangi kekuataan pukulannya demi menancapkan paku tersebut, akan tetapi tetap saja tidak bisa tertancap dengan sempurna. Bahkan beberapa kali paku tersebut dicabut kemudian digantikan dengan paku yang lain.

Dari kegiatan tersebut, setidaknya ada dua hal pelajaran penting yang bisa dipetik dari sang tukang kayu beserta palunya. Pertama, ujian kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita sering mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan entah itu dihina, dipandang sebelah mata, diremehin, diketawain, dicibir, dinyinyir, dan sebagainya. Namun perlu diingat satu hal bahwa paku yang bengkok tak akan dipukul hingga menancap. Berbeda halnya dengan paku yang lurus, akan menerima pukulan yang sangat kuat sampai benar-benar menancap dengan sempurna.

Olehnya itu janganlah berkecil hati karena apa yang kita alami sudah menjadi takdir ilahi. Pahit manis, susah senang, sedih bahagia adalah bahagian dari ujian kehidupan yang Allah berikan kepada hambanya. Hal itu dilakukan semata-mata hanya ingin melihat hambanya melakukan amal yang terbaik, sebagaimana dalam QS al-Mulk ayat 2

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

terjemah:

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”.

Pada ayat yang lain Allah mengingatkan kepada kita bahwa Ia akan menguji hambanya dengan keburukan serta kebaikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Anbiya: 35

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

terjemah:

“setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami”.

Menurut ulama Tafsir didahulukannya kata ٱلشَّرّ (keburukan) kemudian disusul oleh ٱلْخَيْرِ (kebaikan), karena pada umumnya manusia menganggap bahwa ujian itu adalah segala sesuatu yang mengarah kepada keburukan. Padahal mereka lupa bahwa terkadang ujian terberat dalam hidup adalah berupa kenikmatan (kebaikan). Kekayaan, kecerdasan, ketenaran adalah sebahagian ujian kehidupan yang terkadang membuat manusia lupa akan nikmat yang telah diberikan. Itu sebabnya ujian dengan kabaikan lebih sulit dari pada ujian berupa malapetaka (keburukan). Karena terkadang manusia lupa dengan daratan dikala ia senang, sedangkan bila ia dalam kesulitan, biasanya memiliki dorongan yang kuat untuk mengingat Allah swt.

Kedua, patah semangat adalah suatu perasaan manusiawi yang terdapat dalam diri seseorang. Ada satu saat dimana seseorang akan mengalami yang namanya titik jenuh, baik itu di usia muda, tua, maupun di usia lanjut. Olehnya itu penyakit seperti ini mesti diantisipasi sedini mungkin agar tidak menjadi benalu dalam semangat kehidupan.  

Dalam sebuah kompetisi kehidupan, terkadang seseorang yang tidak lagi bisa memberikan kontribusi maka akan tersisih dengan sendirinya. Ia dibaratkan dengan sebuah paku bengkok yang tidak bisa lagi menancap dengan sempurna, maka digantikanlah dengan paku lurus yang diibaratkan seseorang yang lebih memumpuni.

Demikian halnya seseorang yang bergelut di dunia literasi baik itu Dosen, Mahasiswa, Peneliti dan lain sebagainya, jika tidak berbenah diri maka tentu ia hanya akan menjadi penikmat literasi, dalam artian hanya bisa menancapkan semangat literasi tanpa diikuti dengan eksekusi. Olehnya itu kuatkan tekad, luruskan niat, katakan aku bisa, kalian bisa, kita bisa jangan menyerah, ini bukan persoalan batasan maupun keterbatasan. Kita semangat karena memahami bahwa sukses itu sama dengan proses bukan suka protes. Orang yang mampu mengukir kata akan menggenggam dunia dan akan tetap hidup sekalipun ia telah mati.

 

Ternate, 25 Juni 2020.



asasas

 sasasasas