Senin, 22 Juni 2020

OPTIMISME

OPTIMISME

Kata Kata Motivasi : Cinta, Islami, Sukses, Kerja, Lucu, Belajar ...

Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Salah satu ajaran dalam agama Islam adalah memliki semangat optimisme. Menurut ahli bahasa bahwa kata optimisme  adalah sebuah paham  keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang  baik,  menyenangkan  serta selalu memiliki harapan yang baik dalam segala hal. Demikian halnya dalam agama kita dituntut untuk selalu memiliki semangat optimisme. Namun pada realitanya terkadang  kita dihantui dengan perasaan gagal, takut bangkrut, tidak lulus, tidak diterima, tidak mampu, tidak bisa memberikan yang terbaik, tidak bisa menulis, karya kurang bagus, tidak menarik, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang  mamapu membuat semangat kita jadi ciut.

Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa seorang hamba  dituntut agar tidak berputus asa terhadap rahmat Allah, meskipun  ia telah berlumuran dosa. Sebagaimana firman Allah dalam QS az Zumar: 53

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Terjemah:

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sebahagian ulama tafsir memahami ayat ini bahwa seorang hamba dituntut untuk memiliki sifat optimis yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah tafa’ul. Jika dianalisis secara seksama, maka kita akan mendapati seruan dari Allah kepada Rasul-Nya agar menyampaikan secara langsung mengenai sebuah harapan (rahmat) yang akan diberikan kepada setiap hambanya, sekalipun ia berlumuran dosa.

Istilah tafa’ul ini sangat dekat dengan makna  husnu  dzan (berprasangka baik), misalnya ketika kita sedang menjenguk orang yang sedang sakit, kadang kita mengatakan: “penyakit kamu tidak parah, dulu tetangga saya juga punya penyakit  seperti ini, dan akhirnya sembuh. Jadi tidak usah khawatir insya Allah sebentar lagi penyakitmu  akan sembuh ini hanya persoalan waktu saja”,  Padahal   ia sudah divonis oleh Dokter bahwa  usianya  tidak lama lagi, akan tetapi kita terus menyemangatinya

Imam  Mawardi mengatakan bahwa tafa’ul adalah sebuah penguatan terhadap niat,  dalam artian menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan serta penolong untuk meraih kemenangan. Disamping itu juga sebagai bentuk lapang dada agar seorang mukmin senantiasa ber husnu dzan (prasangka baik) kepada Tuhannya, serta menjadi usaha unutuk menempatkan diri dalam kebaikan.

Lawan kata dari tafa’ul adalah tathayyur. Jika tafa’ul diidentikkan dengan husnu dzan, maka tathayyur adalah  su’u dzan. Rasulullah SAW  pernah menegaskan dalam sebuah sabdanya bahwa:

لاَ طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللّهِ وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ

 

Artinya:

“Tidak ada thiyarah, dan sebaik-baik thiyarah adalah al-Fa’l. Ditanyakan (oleh Sahabat): Wahai Rasulullah apa yang dimaksud  dengan fa’l ? Beliau menjawab: “Yaitu kata-kata baik yang didengar oleh salah seorang kamu.” (Lihat Shahih Bukhari: 5422, 5423, Muslim: 2223)

Term thiyarah dalam  hadis tersebut adalah merasa pesimis dan bernasib sial karena burung. Demikian penjelasan ulama hadis mengenai asbab wurudnya. Konon pada zaman  jahiliyah,  jika seseorang  mempunyai suatu  hajat, maka ia akan melihat arah mana yang dituju oleh burung yang sementara terbang lalu mereka akan mengikutinya.  Jika burung tersebut terbang ke arah  kanan, maka ia akan merasa optimis dan segera melanjutkan niatnya. Akan tetapi jika burung tersebut terbang ke arah kiri, maka ia merasa pesimis kemudian kembali ke rumahnya dan  tidak akan melanjutkan  niatnya. Setelah Islam datang,  maka tradisi seperti ini pun tidak lagi dipakai oleh masyarakat mekah.

Seiring berjalnnya waktu, term  thiyarah ini pun mengalami pergeseran makna, yaitu diartikan sebagai perasaan pesimis secara mutlak, entah itu melihat burung atau melhat yang lainnya. Olehnya itu Rasulullah menjelaskan bahwa sebaik-baik thiyarah  adalah fa’l, maksudnya jika memang betul  adanya seperti yang  mereka pahami bahwa sesuatu itu memiliki pengaruh, maka sebaik-baik yang memiliki pengaruh adalah ucapan baik yang ia dengar dan membuahkan perasaan optimis serta memprediksi akan terwujudnya kebaikan.

Demi Masa Depanmu, 5 Alasan Kenapa Dosen Pembimbing Kadang ...

Dalam konteks kinerja dosen untuk menghasilkan sebuah karya di bidang literasi, dibutuhkan yang namanya rasa optimis. Tentu tidak  mudah  membangkitkan semangat tersebut, olehnya itu berbagai cara bisa ditempuh, salah satunya adalah saling menyemangati serta memberi motivasi agar bisa terus mengukir prestasi. Motivasi saja tidaklah cukup, mesti ditopang oleh kemauan  keras serta kesabaran yang extra. Olehnya itu berbuatlah dengan segera jangan pernah menunda-nunda,  karena  perjalanan  hidup masih panjang, dan tentunya harapan akan selalu ada bagi yang  tidak berputus asa. Maka ingatlah satu hal bahwa nasib seseorang tidak akan berubah selama ia tidak merubah cara pandangnya dalam hidup.

 

 

Ternate, 23 Juni 2020

 


Jumat, 19 Juni 2020

Tukang Cukur yang Meragukan Tuhan

Tukang Cukur yang Meragukan Tuhan


Foto : Akibat Covid-19, Mayoritas Usaha Pangkas Rambut Garut di ...


Oleh: Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Suatu ketika terjadi dialog anatara seorang tukang cukur dengan pelanggangnya. Dalam dialog tersebut, sang tukang cukur mengatakan kepada pelanggangnya bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada, jadi tidak usah mati-matian beribadah toh bahagia dan tidaknya seseorang itu ditentukan oleh usahanya sendiri. Bahkan Tuhan hanya menimpakan musibah, bencana kesusahan dan lain sebagainya. Lagian kalau memang Tuhan itu ada, pasti akan segera mengijabah do’a-do’a setiap hambanya. Coba pikirkan dimana kehadiran Tuhan ketika hambanya memohon pertolongan? sahut sang tukang cukur. Mendengarkan pernyataan tukang cukur tersebut, sang pelanggang  hanya tersenyum.

Setelah selesai dicukur, pelanggang tersebut berjalan ke arah pintu keluar sambil memikirkan pernyataan tukang cukur tersebut. Tiba-tiba sang pelanggang melihat seorang anak muda yang berambut panjang, kemudian dia mengajaknya masuk ke tempat cukur. Alhasil, pelanggang tersebut bertanya kepada sang tukang cukur, ia mengatakan: “Bapak sudah berapa lama menjadi tukang cukur”?

Tukang cukur              : “ya kurang lebih 20 tahun”

Sang pelanggang    : “cukup lumayan juga ya Pak!, tapi kok masih masih ada orang yang rambutnya panjang? Nah ini salah satunya saya temukan pas mangkal di depan tempat cukur bapak”!

Tukang cukur              :“ya karena dia tidak mau mampir ke tempat cukur saya, makanya rambutnya panjang. Seandainya dia datang pasti saya cukur sekalipun tidak punya uang”.

Sang pelanggang     : “demikianlah juga Tuhan sebenarnya sangat dekat dengan hambanya, cuma mereka sendiri yang tidak mau mendekat, bahkan tidak sedikit yang malah menjauhi Tuhan. Padahal Tuhan sudah memberikan begitu banyak nikmat-Ny, udara saja yang kita hirup ini kan gratis tidak dipungut biaya”.

Mendengar jawaban dari pelanggang tersebut, sang tukang cukur merasa malu serta menyesal atas pernyataannya, dan ia pun berterimah kasih atas nasehat yang telah diberikan.

 Dari dialog di atas, kita bisa belajar bahwa Tuhan tidak pernah menjauhi hambanya, bahkan ketika seorang hamba berjalan menemui Tuhan, maka Tuhan akan berlari menuju kepada hambanya. Di dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 186 Tuhan menjelaskan bahwa ia sangat dekat dengan hambanya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemah:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Dalam ayat ini terdapat salah satu huruf syarth (suatu huruf yang mensyaratkan sesuatu), yaitu term  إذا , yang maknanya diperuntukkan untuk sesuatu yang diyakini sering kali atau pasti terjadi. Berbeda halnya dengan penggunaan term إٍنْ , digunakan untuk sesuatu yang diragukan atau jarang terjadi demikian penjelasan sebahagian Ulama Tafsir. Misalnya dalam QS al-Baqarah: 180

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا ٱلْوَصِيَّةُ لِلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ بِٱلْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى ٱلْمُتَّقِينَ


Terjemah:

“Diwajibkan atas kamu apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika  dia meningalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang bertakwa”.

Ketika ayat di atas menyebutkan kematian (tanda-tandanya), ia menggunkaan term إذا, oleh karena hal tersebut merupakan sesuatu yang pasti terjadi, sedangkan ketika menyebutkan persoalan harta digunakan term إٍنْ karena hal tersebut jarang terjadi, artinya tidak semua orang meninggalkan harta yang banyak ketika meninggal dunia.

Oleh sebab itu QS al-Baqarah ayat 186 menjadi tuntunan bagi umat manusia agar senatiasa meyakini bahwa Tuhan akan selalu ada ketika hambanya memanggil (berdo’a), serta mengijabah segala permohonannya. Namun terkadang sebahagian manusia kurang sabar atas segala do’a-do’a yang ia panjatkan, bahkan ia mengukur ukuran (kekuasaan)  Tuhan sama dengan ukuran makhluknya.

Dalam perjalanan kehidupan satu hal yang mesti kita pahami bahwa Tuhan akan senantiasa memberikan ujian atau cobaan, agar kita bisa menjadi manusia yang terbaik. Hal inilah yang membedakan ujian kehidupan dengan ujian yang ada di sekolah. Jika di sekolah (para siswa) sebelum diberikan ujian, maka akan melalui yang namanya tahapan belajar, namun berbeda halnya dengan persoalan kehidupan, dimana Tuhan akan memberikan ujian terlebih dahulu agar supaya kita bisa belajar dari setiap ujian maupun cobaan yang diberikan.

والله أعلم بالصواب

 


Ternate 20 Juni 2020


Senin, 15 Juni 2020

Pekerjaan Kita sama Tapi Ko’ Gajinya Beda?

Dialog Jokower VS Orang Waras | PORTAL ISLAM

Pekerjaan Kita sama Tapi Ko’ Gajinya Beda?

Oleh : Muhammad Irfan Hasanuddin

 

Suatu ketika seorang Dokter sedang mendatangi sebuah bengkel mobil untuk memperbaiki mobilnya, dan ia pun mengkonsultasikan tentang kerusakan mobilnya tersebut kepada salah seorang Montir. Alhasil kerusakan pada mobil Dokter tersebut mulai ditangani.

Tidak berselang lama, Montir tersebut berdialog kepada sang Dokter dengan tersenyum ia pun mengatakan: “ profesi dokter itu sangat mulia ya, tentu tidak gampang meraih predikat seperti itu, apalagi punya bayaran (gaji) yang tinggi. Sangat Jauh berbeda dengan kami para Montir”. Sang Dokterpun menanggapi pernyataan Montir tersebut lalu mengatakan, jangan lihat gajinya tapi lihat pekerjaannya yang serba sulit. Tapi kan pekerjaan kita tidak jauh berbeda,  sama-sama membedah sahut sang Montir. Kemudian sambil tersenyum sang Dokter mengatakan Bapak pernah tidak membedah (membongkar) mesin mobil lalu mesinnya tidak dimatikan ? kalau bisa, maka saya akan berikan bayaran yang sangat tinggi. Sang montirpun tersipu malu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Dari kisah ini kita bisa belajar bahwa dalam hidup terkadang punya banyak kesamaan termasuk dalam hal pekerjaan. Namun tentu juga ada sisi perbedaannya. Boleh jadi profesi kita sama akan tetapi kadang rejeki berbeda. Demikianlah takdir Tuhan, tugas kita hanyalah menjalani biarkan Tuhan terus berkreasi melalui skenario terbaiknya, tetap ikhlas menjalani, bermanfaat bagi orang lain, dan tidak usah iri hati dengan kesuksesan orang lain. Tetaplah mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan, dengan begitu kita akan menjadi pribadi yang lebih Qana’ah.

Tidak usah memaksakan perbedaan itu harus menjadi sama, terimalah setiap perbedaan yang ada, agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih toleran. Demikianlah  manusia diciptakan dengan jenis serta karakter yang berbeda. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS al-Hujurat: 10.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Terjemah:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Adanya perbedaan dari setiap ciptaan Tuhan, menuntun kita agar senantiasa saling melengkapi satu sama lain, tanpa membanggakan kelebihan masing-masing. Bukankah pelangi terlihat indah karena memancarkan warna yang berbeda?, begitu pula dengan kehidupan akan terlihat lebih bermakna jika punya banyak warna.

 

Ternate, 16 Juni 2020

 

 

 


Jumat, 12 Juni 2020

Kamu Bermata Lebah Atau Bermata Lalat ?

Tugu Pancoran: Kisah Mata Lalat VS Mata Lebah


Kamu Bermata Lebah Atau Bermata Lalat ?

Oleh: Muh. Irfan Hasanuddin

Lebah dan lalat adalah dua makhluk  Allah yang diciptakan dengan berbagai keunikan. Misalnya lebah hidup secara berkoloni yang jumlahnya bisa mencapai 80.000 ekor yang mayoritas tipekal pekerja.dan uniknya lagi mereka memiliki pemimpin dari jenis betina, sungguh emansipasi lebah yang luar biasa.

Ayat yang berbicara tentang lebah bisa kita dapati dalam QS al-Nahl ayat 68-69

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ , ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ.

Terjemah:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”

 “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”

Jika ayat tersebut dicermati, maka kita akan mendapati sebuah proses kumsumtif yang higenis serta natural. Olehnya itu tidak salah ketika lebah mengelurkan cairan dari perutnya mengandung khasiat yang luar biasa. Dan bahkan Nabi SAW pun menganjurkan untuk berobat dengan madu.

Disisi lain  Nabi SAW mengibaratkan orang mukmim itu seperti lebah sebagaimana sabdanya:

وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد

Artinya:

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (diranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir)

Lebah hanya memakan serta mengelurkan yang baik saja. Demikian halnya orang mukmin dituntut ketika berucap atau berbuat tentunya dengan sesuatu yang baik pula, sebagaimana lebah yang mengeluarkan madu yang bermanfaat bagi manusia, tentu orang mukmin juga diharapkan demikian. Sesuai dengan sabda Nabi SAW yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.

Kelebihan lain lebah adalah pekerja keras, pantang menyerah dan tidak memakan sesuatu dari hasil pekerjaan lebah lainnya. Seharusnya seorang manusia juga harus memiliki sifat optimis dalam hidup, ulet, tak kenal kata menyerah, dan menghargai hasil kinerja orang lain. Bahkan seorang ulama pernah berkomentar tentang lebah.


ووجه الشبه: حذق النحل، وفِطنته، وقلة أذاه، وحقارته، ومنفعته، وقنوعه، وسعيه في النهار، وتنزُّهه عن الأقذار، وطيب أكله، وأنه لا يأكل مِن كسب غيره، وطاعته لأميره، وأن للنحل آفاتٍ تقطعه عن عمله، منها: الظلمة، والغَيْم، والريح، والدخَان، والماء، والنار، وكذلك المؤمن له آفات تُفقِره عن عمله؛ ظلمة الغفلة، وغَيْم الشك، وريح الفتنة، ودخَان الحرام، ونار الهوى

Artinya:

“Dan adapun sisi kesamaannya (lebah dan orang mukmin) bahwa lebah itu cerdas, ia jarang  menyakiti, rendah diri (tawadhu), bermanfaat, selalu merasa cukup (qana’ah), bekerja di waktu siang, menjauhi kotoran, makanannya halal serta baik, ia tidak memakan sesuatu dari hasil kinerja lebah yang lainnya, sangat taat kepada pemimpinnya, serta berhenti dari aktivitas bila ada gelap, mendung, angin, asap, air dan api. Demikian halnya orang mukmin akan terkena penyakit jika terkena gelapnya kelalaian, mendungnya adalah sebuah keraguan, angin fitnah, asap haram dan apinya hawa nafsu”.

Lain halnya dengan lalat yang juga diabadikan dalam al-Qur’an sebagai pelajaran bagi umat manusia khususnya orang-orang yang mempersekutukan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Hajj ayat 73

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلْمَطْلُوبُ

Terjemah:

“Hai sekalian manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu datangi (berdo’a) selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulahlah) yang disembah.”

Pada ayat tersebut, Allah jadikan lalat sebagai perumpamaan. Oleh karena makhluk tersebut kadang dianggap remeh, lemah, kotor serta menjijikkan. Akan tetapi dibalik semua itu lalat mempunyai sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Antara lain sayapnya yang mengandung penyakit (virus) namun sayap yang lain menjadi penawar. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

Artinya:

“Dari Abu Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “apabila seekor lalat masuk kedalam bejana kalian, maka hendaklah dicelupkan semuanya kemudian dibiarkan, karena pada salah satu sayapnya mengandung penyakit  dan sayap yang lainnya adalah obat (penawar)”. (HR al-Bukhari’)

Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam kitabnya al-Tib al-Nabawi, mengomentari hadis ini, Ia mengatakan bahwa hadis tersebut mengandung dua hal yaitu persoalan fiqhi dan medis. Mengenai persoalan fiqhi, hadis ini menjadi dalil bahwa lalat yang mati dalam bejana tidak menyebabkan isinya (airnya) menjadi najis. Adapun dari sisi medisnya, bahwa ketika seekor lalat hinggap dalam bejana yang berisikan air, maka tenggelamkanlah (celupkanlah)  karena salah satu sayapnya mengandung penawar dari racun (virus) yang dibawahnya.

Lalat dijuluki binatang pemberani oleh karena tidak kenal yang namanya kata menyerah, hal ini dibuktikan ketika kita mengusir lalat, awalnya lalat itu pergi akan tetapi dengan cepat ia akan kembali lagi. Demikian juga seharusnya seorang manusia diharapkan mempunyai sikap optimisme, pantang menyerah,  jika terjatuh ia akan segera bangkit dan memulai kembali dengan semangat yang baru.

Dari sekian banyak kelebihan yang ditorehkan oleh lebah dan lalat, ternyata ada satu hal pelajaran penting yang bisa kita dapat dari perbedaan kedua makhluk tersebut, bahwa mata lebah akan mencari bunga meskipun berada di tempat sampah, dan mata lalat akan mencari sampah sekalipun berada ditaman bunga.

Siapakah Dirimu di Tengah Situasi Covid-19? Lalat atau Lebah ...

Demikian manusia ada tipe mata lebah dan ada juga mata lalat. Meskipun datang berbagai pertolongan maka mata lalat akan senantiasa mencari keburukan. Namun mata lebah pasti dia menemukan kebaikan. Olehnya itu tidak akan berubah nasib seseorang sebelum merubah cara pandangnya. Meskipun sejuta pertolongan diberikan kalau orang tersebut bermata lalat maka yang dicari hanyalah keburukan, begitu pula sebaliknya. Dan  hanya yang bermata lebah yang mampu menemukan segala kebaikan.

Wallahu ‘Alam bi al-Shawab.

 

Ternate, 13 Juni 2020

 

 

 

 

 


Jumat, 05 Juni 2020

"SOTTA"

Kisah Orang Buta dan Gajah

“SOTTA”

Oleh : Irfan

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa ada seorang pemilik kebun binatang ingin memberikan ilmu hikmah kepada anak-anaknya. Ia pun mengajak anak-anaknya berkeliling kebun dan menemui enam pemuda tunanetra. Kemudian sang pemilik kebun meminta keenam pemuda tunanetra tersebut untuk memegang seekor gajah, kemudian menginstruksikan  untuk mendeskripsikan bentuknya.

Tampillah pemuda yang pertama dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa gajah itu seperti sesuatu yang agak licin, panjang dan agak runcing. Selanjutnya pemuda yang kedua mengatakan gajah itu seperti ular yang besar dan panjang. Pemuda yang ketiga mengatakan kalian salah, yang benar gajah itu seperti daun yang lebar. Pemuda yang keempat mengatakan gajah itu seperti tembok yang besar. Pemuda yang kelima menyanggah semua temannya dengan nada tinggi ia mengatakan kalian salah yang benar gajah itu sesuatu yang tinggi dan besar. sedangkan pemuda yang keenam mengatakan gajah itu seperti rambut yang panjang. Alhasil mereka bertengkar dan bersih kukuh dengan pendapatnya masing-masing, tidak ada yang mau mengalah dan merasa paling benar.

Sang pemilik kebun pun tersenyum dan mengatakan kepada anak-anaknya, bahwa seperti inilah orang-orang yang egois dan tidak mau menghargai pendapat orang lain, padahal jika dilihat secara seksama maka kita akan mengatakan semuanya benar, tidak ada yang salah.

Pemuda yang pertama mengatakan gajah itu seperti sesuatu yang agak licin, panjang dan agak runcing karena hanya memegang gadingnya. Pemuda yang kedua, megatakan bahwa gajah itu seperti ular yang besar dan panjang karena ia hanya memegang bahagian belalainya. Adapun Pemuda yang ketiga mengatakan gajah itu seperti daun yang lebar karena ia hanya meraba bahagian telinganya.  Pemuda yang keempat mengatakan bahwa gajah itu seperti tembok yang besar karena pas memegang bahagian perutnya. Pemuda yang kelima mengatakan bahwa gajah itu tinggi dan besar karena meraba kakinya, sedangkan Pemuda yang keenam mengatakan seperti rambut yang panjang karena pas memegang ekornya.

Mereka semua benar tidak ada yang berbohong karena mereka mengatakan sesuai atas apa yang mereka tahu (pegang). Yang menjadi persoalan adalah mereka tidak mau membuka diri dan menghargai pendapat orang lain, justru mereka hanya fokus untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Seandainya mereka saling terbuka dan mau menerima pendapat orang lain, maka tentu mereka akan mampu mendeskripsikan gajah dengan sempurna.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita menemui beberapa karakter manusia yang egois, hanya mau menang sendiri. Dalam artian mereka menutup diri dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Padahal apa yang mereka pahami sangatlah sedikit, baik itu ilmu agama atau ilmu-ilmu yang lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra’: 85 yang terjemahannya “ Tidaklah Aku berikan ilmu kepada kalian kecuali hanya sedikit sekali”. Jika demikian, maka apakah pantas bagi kita menganggap  yang paling benar ? dan mengabaikan pendapat orang lain.

Kakarter lain yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah orang yang “SOTTA” (dialek makassar)  atau singkatan dari sot tau (sok tahu). Tipe orang yang seperti ini, selalu  merasa ahli disegala bidang, padahal jika sudah diajak diskusi maka akan mati kutu juga dan kelabakan menjawab pertanyaan. Bahkan dalam sebuah riwayat dijelaskan Nabi SAW sangat membenci 3 karakter manusia. Pertama, al-Mutafaihiqun (الْمُتَفَيْهِقُونَ). Yaitu orang yang angkuh sikapnya, cara jalannya pun diabuat-buat dengan tujuan menyombongkan diri. Kedua, Al-Mutasyaddiqun (الْمُتَشَدِّقُونَ) yaitu orang yang suka memfasih-fasihkan diri, meremehkan orang lain dengan bertutur kata  menggunakan ungkapan yang tinggi seakan-akan orang tidak mengetahuinya padahal perkataannya itu bisa saja disederhanakan. Ketiga, Ats-tsartsarun (الثَّرْثَارُونَ). Yaitu orang yang banyak bicara, suka mendominasi pembicaraan, menyerobot pembicaraan orang lain, seolah-olah tidak boleh ada yang berbicara selain dirinya. Ini juga merupakan bentuk kesombongan, bahkan arah pembicaraannya cenderung ngaur dan tidak berisi, ya seperti kata pepatah tong kosong nyaring bunyinya banyak bicara kadang “tidak ada isinya “.

Olehnya itu mari saling menghargai pendapat satu sama lain, belajarlah menjadi pendengar yang baik, sekalipun pembicaraan itu tidak kita senangi. Dan jika tidak bisa menyuarakan kebaikan maka lebih baik diam dari pada  “SOTTA”

 

Ternate, 6 Juni 2020    






Senin, 01 Juni 2020

MERANTAU (antara tradisi dan ambisi)

MERANTAU

September 2017, adalah awal mula saya menginjakkan kaki di kota Ternate. Kota yang semula hanyalah sekedar bahan ajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang biasanya saya terangkan di hadapan para santri Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar. Awalnya hanyalah sebuah candaan dihadapan para santri, sayapun berkata kepada mereka “kayaknya kurang mantap menjelaskan sesuatu yang kita sendiri tidak pernah merasakan hal tersebut, apalagi jika berhubungan dengan sejarah, semestinya kita harus mendatangi tempatnya”. Jadi seharusnya kita harus datang dulu melihat lansung kota tersebut yang menjadi basis kekuasaan sultan Babullah.

Bel telah berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba, para santri berhamburan keluar kelas menuju kantin dan saya pun menuju ke ruangan guru untuk istirahat.  Sambil di temani dengan segelas kopi hangat, saya pun membuka sebuah kitab hadis dan entah mengapa pandangan saya tertuju pada sebuah hadis yaitu:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة

Artinya:

“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin al-Khattab ra, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya  karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)”.

Menurut Ulama, hadis tersebut muncul dikarenakan ada di antara sahabat Nabi saw yang ikut berhijrah ke Madinah semata-mata disebabkan terpikat seorang wanita. Beliaupun mengetahui hal itu, lalu bersabdalah dengan hadis tersebut. Yang membuat saya  penasaran, bukan pada persoalan niatnya, akan tetapi proses hijrahnya. Dasa rasa penasaran itu makin bertambah dikarenakan sebuah pertanyaan kecil dalam benak saya, “kira-kira mengapa Nabi harus berhijrah, bukankah tugas Nabi itu membawa risalah, menyelamatkan manusia dari kegelapan dan kebodohan, bukankah di Mekah terkenal dengan jahiliyahnya ?”, jadi mengapa harus hijrah, kan tantangannya jauh lebih banyak di Mekah dibandingkan di Madinah. Jika tantangannya banyak, otomatis pahalanya banyak, tapi itu hanya pertanyaan spekulasi saja. Setelah membaca beberapa keterangan ulama, saya pun berkesimpulan bahwa ternyata Nabi berhijrah bukan karena takut dengan kaum kafir Quraisy, lari dari tugas atau selainnya, akan tetapi itu adalah tuntunan dari Allah agar meninggalkan kota Mekah yang dinilai sudah tidak kondusif lagi buat dihuni. Jadi intinya di suruh untuk merantau agar agama Islam bisa lebih berkembang, apalagi di kota Madinah yang dulunya bernama Yasrib, sudah banyak bibit agama Islam dan tentunya kota Madinah juga jauh lebih maju dibandingkan Mekah. Dari kronologis hadis tersebut saya dapat memahami bahwa ternyata ketika kita sudah mengalami yang namanya jalan buntu, tidak ada perkembangan, bahkan kita malah ketinggalan zaman, maka solusinya adalah berhijrah atau dengan kata lain merantau. Hasilnya pun terbukti, ketika Nabi berhijrah, agama Islam mampu berkembangan dengan pesat hingga ke seluruh jazirah arab, bahkan sampai ke seluruh pelosok dunia.

Berdasarkan hasil dari perenungan hadis tersebut, maka saya pun memutuskan untuk berhijrah dalam artian bukan berhijrah meninggalkan perbuatan dosa menuju kepada pertaubatan, akan tetapi hijrah yang saya maksudkan adalah merantau ke kota lain dalam bahasa bugis biasa dinamai dengan sompe’. Keinginan untuk berhijrah atau merantau sebenarnya bukan karena saya kelaparan, dapur tidak lagi berasap, tidak ada pekerjaan, daerah saya tandus atau kering, akan tetapi saya hanya ingin mencari ketenangan hidup serta mencapai kehidupan yang lebih sejahtera, apalagi saya berdarah Bugis Makassar yang terkenal dengan istilah perantauannya. Saya pernah mendengar salah seorang peneliti sejarah mengatakan bahwa meratau bermakna kesediaan untuk berubah dan mengikuti perubahan. Perubahan untuk menyesuaikan diri mengandung faktor pengorbanan, perjuangan, pemberian dan perolehan, kerena hanya dengan begitu bisa diterima dalam kehidupan lingkungan sosial yang baru.

Para leluhur kami juga berpesan bahwa jangan marantau tanpa arah dan tujuan yang jelas (merantau buta), karena perantau sejati tidak merantau dengan mengikuti arah kaki kemana hendak melangkah, tidak boleh mempunyai prinsip “tegi monro tallenttung ajeku konatu leppang” (dimana kakiku terantuk , disanalah saya berhenti, karena prinsip seperti ini bersugesti negatif. Merantau harus disertai dengan kepastian tempat yang akan dituju, apa yang ingin dikerjakan di sana, bahkan calon perantau harus meyakinkan ruh dan jiwanya untuk menyatu dengan negeri rantau yang akan dituju.

Salah satu pepatah Bugis mengatakan “pura babbara sompe’ku, pura tangkisi gulikku, ulebbireng tellengnge natowalia” artinya jika saya (pelaut) telah memasang kemudiku, telah kubentangkan layarku, lebih baik saya tenggelam dan tersungkur dengan perahuku dari pada harus surut. Falsafah ini mengajarkan kepada seseorang yang telah betekad untuk memilih rantau sebagai jalan hidupnya, maka ia harus istiqamah denga pilihan tersebut, apapun resikonya tidak boleh ada kata mundur. Mundur, mengabaikan, mengingkari sebuah  ikrar, janji, sumpah apalagi telah diumumkan atau telah diketahui oleh banyak orang adalah aib (siri’) bagi orang Bugis Makassar. Harga diri menjadi jatuh tak berharga, seumur hidup akan dicemooh, dihinakan, dihujat dengan kata “paccocoreng manu” yang berarti ia hanya mempunyai nyali sebatas kedutan pada dubur ayam yang telah disembelih.

Setelah ada pengumuman dari KEMENPAN serta KEMENAG tentang formasi CPNS, maka saya berinisiatif  untuk mendaftarkan diri jadi peserta, ya hitung-hitung cari pengalaman sekalian mengadu nasib di negeri orang. Pada saat ingin memilih Istansi saya agak kebingungan, karena ada beberapa kota-kota besar yang menyediakan peluang yang sesuai dengan formasi bidang studi yang saya ampuh. Maka saya pun menunggu beberapa waktu sambil berfikir dan berembuk dengan istri tercinta sembari meminta masukan atau pendapatnya. Setelah sekian lama menunggu akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke salah satu istansi dibawah naungan kementerian agama yaitu IAIN Ternate yang berlokasi di kota Ternate provinsi Maluku Utara. Sebuah kota yang semula saya kenal melalui pelajaran sejarah kebudayaan Islam. Ya luman jauh juga sih, sambil istri tersenyum dan mengatakan kira-kira bisa lulus atau tidak ya?, soalnya dari formasi yang kami pilih untuk jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir hanya ada satu yang diterima artinya peluangnya sangat kecil dibandingkan dengan formasi istri saya yaitu sebanyak tiga orang.

IAIN Ternate sengaja saya pilih karena menyediakan formasi yang sesuai dengan keahlian saya beserta istri. Ya lumayan juga buat jalan-jalan dan menikmati bulan madu, karena kami masih termasuk kategori pengantin baru. Akhirnya kami pun tiba dengan selamat di kota Ternate. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa “kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda”, ya mirip mirip dengan iklan batu ajaiblah (batu tawas). Demikian  kata yang mewakili perasaan saya saat itu, penuh rasa takjub apalagi disambut dengan gunung gamalama yang berdiri kokoh sambil mengeluarkan asap tebalnya. Setelah keluar dari bandara, kamipun diantar oleh salah seorang teman saya yang kebetulan ada di kota tersebut untuk bersantap siang, menu khas Maluku Utara atau bisa dibilang wilayah timurlah. Papeda, ya itu dia papeda makanan khas orang timur. Klo di Makassar sangat khas dengan istilah Kapurung yaitu sejenis sagu yang dimasak dengan campuran sayur-sayuran. berbekal pengalaman memakan kapurung, kamipun bisa beradaptasi dengan cepat menu khas masakan Maluku utara tersebut. Setelah selesai bersantap siang, kamipun berangkat menuju tempat penginapan untuk istirahat sambil mempersiapkan diri untuk ujian CPNS besok.

Hari yang dinanti pun telah tiba, yang namanya ujian biasanya tidak jauh dari rasa deg-degan, penuh kekhawatiran jangan sampai tidak lulus. Dengan berbekal pengalaman tes CAT sewaktu di kota Palu, maka saya pun memulai tes dengan penuh keyakinan serta tawakkal kepada Allah. Dan Alhamdulillah saya dinyatakan lulus dan berhak untuk mengikuti tes selanjutnya. Sedangkan sang istri tercinta belum beruntung, akan tetapi diapun merasa bangga karena salah satu dari kami ada yang lulus, ya mengingat perjuangan untuk menuju ke lokasi tes juga tidaklah mudah. Setelah berada di kota Ternate selama tiga hari, kami pun kembali ke kampung halaman untuk melaksanakan tugas seperti biasanya, sambil menunggu konfirmasi selanjutnya.

Hari demi hari telah berlalu, tibalah saatnya saya mendapatkan panggilan untuk mengikuti tes selanjutnya. Jadwal tes semakin dekat akan tetapi saya belum memesan tiket pesawat, ya lagi-lagi terkendala dengan persoalan finansial. Namun alhamdulillah Allah memberikan saya jalan keluar dan akhirnya tiket pesawat pun sudah ada ditangan.

Tes yang kedua ini adalah sebuah penentuan lulus atau tidaknya. Perasaan saya pada tes yang kedua  ini tidak terlalu menegangkan, dikarenakan tidak adanya saingan pada formasi tersebut. Begitupun beberepa peserta lainnya, yang sudah yakin 99% akan lulus. Namun ada juga sebahagian peserta yang masih belajar dengan serius agar dapat bersaing dengan yang lainnya. Dengan modal kepercayaan tersebut maka dengan sangat yakin bahwa saya pasti lulus dan bisa diterima di instansi tersebut, ditambah lagi saya memohon sebuah wasilah melalui salah seorang habib asal Yaman untuk didoakan, yang menurut orang do’anya sangat makbul karena masih mengalir darah Nabi.

Tiba saatnya KEMENAG mengeluarkan pengumuman resmi nama-nama yang lulus sebagai CPNS 2017 dan Alhamdulillah sesuai yang diharapkan nama saya salah satu yang terpajang di papan pengumuman dan akhirnya saya pun dinyatakan lulus. Perasaan gembira, terharu, bahkan sedih tentunya silih berganti menghiasi saat membaca pengumuman tersebut. Gembira dan terharu karena Ibu saya sangat ingin melihat ada anaknya yang bekerja sebagai ASN. Dan sedihnya karena tidak lama lagi saya akan meninggalkan kampung halaman, jauh dari keluarga, teman, kerabat dan lain-lain.

Surat pemanggilan untuk melaksanakan tugas telah terbit, tibalah saatnya saya mengucapkan salam perpisahan. Dengan berat hati saya mohon pamit kepada teman seperjuangan saya, para dewan guru, staf, serta para santri dan santriwati pondok pesantren An Nahdlah Makassar, tempat dimana saya mengenal yang namanya agama, tempat mengasa keikhlasan, dan tempat meraih keberkahan. Perpisahan itu dihiasi dengan linangan air mata, seakan-akan para santri mengatakan “Ustadz mohon jangan pergi, kami masih ingin menimbah ilmu kepadamu”. yang lebih mengharukan lagi saya dibuatkan acara khusus perpisahan oleh para santri, dewan Guru, serta pihak yayasan pesantren, acara perpisahan yang belum pernah dilakukan sebelumnya kepada guru-guru lain yang hendak pindah tugas. Linangan air mata tidak berhenti sampai disitu, keluarga yang ikut mengiringi kepergiaan saya ke bandara pun tak kuasa menahannya. Sekali lagi saya pamit kepada Ayah Ibu, Istri tercinta, serta keluarga. Teriring do’a dari mereka “semoga selamat sampai tujuan, dan tentunya meraih kesuksesan” sahutnya.

Selamat datang di bandara sultan Babullah kota Ternate, ya kalimat itu terdengar sangat jelas ditelinga menandakan saya telah tiba dengan selamat di kota tersebut. Suasana baru telah menyambut, entah itu bahasa, adat kebiasaan mereka mengharuskan saya untuk menyesuaikan diri. Seperti biasanya setealah turun dari pesawat saya pun ikut antri mengambil barang bawaan sambil memerhatikan beberapa orang di samping saya yang sementara bercakap-cakap menggunakan aksen ternate, ternyata ini bukanlah sebuah mimpi, saya betul-betul telah menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan hasil rempah-rempahnya. Inilah dunia baru yang saya harus jalani, harus senantiasa istiqamah, tegar,dan sabar, agar dapat meraih kesuksesan seperti yang mereka harapakan.

Hidup sendiri di tanah rantau, jauh dari sanak keluarga serta istri memang sangatlah sulit. Akan tetapi saya harus kuat menjalani semua ini, demi mewujudkan harapan mereka yaitu meraih kesuksesan. Sesekali saya menghibur diri dengan melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, sejuk tentulah sangat terasa ketika meresapi makna ayat demi ayat. Hingga tak terasa sampai pada salah satu ayat yang berhubungan dengan berhijrah/merantau yaitu:

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ

Terjemah:

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS. Al Mulk: 15)

 

Dalam sebuah tafsir dijelaskan bahwa Allah SWT  menjadikan bumi tunduk dan patuh agar mudah untuk dilewati, digali, ditanami, dan didirikan bangunan di atasnya. Allah tidak menjadikan bumi itu sulit dan tidak mungkin, Allah menjadikan bumi seperti unta yang penurut, kemanapun ia dituntun, maka ia akan mengikuti. Itu sebabnya bumi disifati dengan kata  ذَلُولٌ, maka sangat tepat mengungkapkannya dengan kata مَنَاكِبِهَا, bukan dengan طُرُقِهَا, dan فِجَاجِهَا. Orang yang berjalan di atas manakib bumi, yaitu sesuatu yang tertinggi darinya. Karena itu manakib ditafsirkan dengan gunung-gunung, seperti manakib manusia, yaitu bagian tertinggi darinya.

Ayat ini pula mengandung petunjuk tentang Rububiyah Allah, keesaanNya, kuasaNya, hikmahNya, dan kelembutanNya, mengingatkan nikmat-nikmat Allah dan kebaikan-kebaikanNya, juga memperingatkan dari sikap condong kepada dunia, dan menjadikan dunia sebagai tempat tinggal selamanya, sebaliknya kita berjalan dengan bergegas di dunia ini menuju alam akhirat dan surga. Sungguh menakjubkan apa yang dikandung oleh ayat ini, berupa pengetahuan tentang Allah, tauhidNya, peringatan tentang nikmat-nikmatNya, dorongan untuk berjalan kepadaNya, bersiap diri untuk bertemu dengan-Nya, dan pulang kepadaNya.

Ibnu Kasir dalam kitab tafsirnya ia mengatakan bahwa Allah SWT menjelaskan nikmat-Nya kepada makhluk-Nya yang telah menundukan bumi untuk mereka. Dia telah menjadikannya terhampar dan tenang, tidak goncang atau bergerak-gerak, karena Dia telah menjadikan gunung-gunung (sebagai pasaknya). Dia telah mengalirkan mata air, membentangkan padanya jalan-jalan, menyiapkan padanya berbagai manfaat serta tempat-tempat yang cocok untuk menanam tanaman-tanaman dan buah-buahan. Allah berfirman, “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya,” yakni pergilah kalian ke mana saja yang kalian suka di seluruh penjuru bumi. Dan berpencaranlah kalian di berbagai belahannya untuk melakukan berbagai aktivitas dan perdagangan.

Dari ayat inilah saya bertambah yakin untuk merantau karena saya juga sangat yakin bahwa ditempat perantauan, saya tidak akan menderita. Binatang saja terjamin reskinya apalagi manusia, makhluk yang paling dimuliakan. Episode dari perjalanan hidup ini baru saja dimulai, badai yang besar akan siap menghantam perahu layarku yang sudah berlabuh. Dan tentunya hal itu takkan menyurutkan niat untuk kembali ke kampung halaman sebelum membawa mahkota kesuksesan. Akhirnya saya ucapkan selamat berpisah ayah ibu, sanak keluarga, sahabat-sahabatku, kota kelahiranku, kudekap engkau dalam hembusan angin kerinduan. Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi lahaula wala kuwwata illa billahil aliyyil ‘Adzim.  wassalam

 

 

    


asasas

 sasasasas